Bukan cuma saat rekrutmen, di kantor juga sering dilebih-lebihkan
“Kebohongan” ini juga terjadi pada orang-orang yang sudah bekerja dan suka “gaya-gayaan” soal kemampuan AI.
Sekitar 65% pekerja kantor mengaku pernah melebih-lebihkan skill AI mereka. Ada yang mengaku melakukannya sesekali, ada juga yang sering melakukannya.
Menariknya, mereka yang di level manajemen atau eksekutif lebih sering berbohong dibandingkan karyawan biasa.
Mungkin karena persaingan di level atas lebih ketat dan mereka ingin terlihat relevan.
Selain itu, pria dan pekerja muda berusia 25 – 44 tahun juga lebih sering melebih-lebihkan dibanding perempuan atau pekerja yang lebih senior.
Konsekuensinya tidak main-main
Namun, perusahaan tentu saja tidak tinggal diam. Dari mereka yang ketahuan bohong, konsekuensinya bermacam-macam.
Sebanyak 41% mendapat beban kerja tambahan, 20% kehilangan respek dari rekan kerja, 12% dipindah ke posisi lebih rendah, dan 10% dipecat.
Jadi, bohong soal skill jelas bukan strategi jangka panjang yang aman.
Baca Juga: 6 Poin Cara Melatih Keterampilan Imajinasi Kamu Agar mampu Membuat Prompting Yang Berkelas
Antara takut dan antusias soal AI
Meski banyak yang masih “pura-pura bisa”, kebanyakan pekerja justru ingin benar-benar meningkatkan skill mereka.
Dalam setahun ke depan, 85% responden berencana belajar AI, baik lewat belajar sendiri, ikut kursus, atau karena diminta atasan.
Sikap pekerja terhadap AI pun campur aduk. Sekitar 35% antusias, 28% cemas, sedangkan sisanya netral.