Menurutnya, momen paling susah buat diam justru saat emosi lagi tinggi. Tapi sering kali, diam itu lebih cepat meredakan situasi dibanding debat terbuka.
Dengan menahan diri, kita bisa menggeser konflik dari reaksi spontan ke obrolan yang lebih privat dan produktif. Di situlah, menurutnya, gaya kepemimpinan yang kuat akan terlihat.
Tetapi tentu saja, diam saja juga bukan kepemimpinan. Kalau terlalu menahan diri sampai arahnya jadi nggak jelas, kepercayaan malah bisa turun.
Quiet leadership baru benar-benar efektif kalau dibarengi tindak lanjut dan ekspektasi yang tegas. Suasana boleh tenang, tapi arah tetap harus jelas. Pemimpin yang baik tetap harus mampu menjelaskan tanggung jawab dan hasil yang diharapkan.