kubikel

Diam Bukan Berarti Consent: Memahami Tonic Immobility yang Terjadi pada Korban Mohan Hazian

Kamis, 12 Februari 2026 | 16:45 WIB
Ilustrasi: Kenali apa itu tonic immobility yang sering terjadi pada korban pelecehan seksual. (Unsplash/Sasun Bughdaryan)

Fenomena serupa ternyata juga terjadi pada manusia. Menurut Mariana Bockarova, PhD, peneliti dari University of Toronto, tonic immobility pada manusia sering muncul sebagai respons terhadap ketakutan yang ekstrem.

Pada manusia, kondisi ini merupakan reaksi otomatis yang tidak dapat dikendalikan. Tubuh terasa membeku. Ada juga yang tidak mampu bergerak, berbicara, atau bahkan berteriak, meskipun secara sadar ingin melakukannya.

Baca Juga: Bintang Dawson’s Creek James Van Der Beek Meninggal Dunia setelah Berjuang Melawan Kanker

Dampak psikologis lebih berat

Sayangnya, penelitian mengenai tonic immobility pada manusia masih tergolong terbatas. Padahal, studi yang sudah ada menunjukkan bahwa dalam situasi ketakutan luar biasa, kita bisa mengalami kelumpuhan fisik maupun verbal.

Gejalanya seperti gemetar, otot menegang, sensasi dingin, mati rasa, hingga berkurangnya sensitivitas terhadap rasa sakit. Yang perlu kamu ketahui, kondisi ini bisa terjadi meskipun secara fisik korban baik-baik saja. Jadi, tidak mampu bergerak itu bentuk respons biologis.

Bockarova bilang, salah satu konteks paling serius di mana tonic immobility sering muncul adalah dalam kasus kekerasan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 37 persen perempuan korban pemerkosaan mengalami kelumpuhan saat peristiwa tersebut terjadi.

Pada korban kekerasan seksual usia anak, angkanya bahkan melebihi 52 persen. Lebih jauh lagi, pengalaman imobilitas tonik ini berkaitan dengan dampak psikologis yang lebih berat setelah kejadian.

Respons ini biasanya muncul ketika korban merasa tidak punya peluang untuk lari. Dalam situasi di mana melawan atau berlari rasanya sudah nggak mungkin, tubuh jadi nge-freeze.

Dalam peristiwa kekerasan seksual, kita sering mendengar narasi bahwa korban seharusnya melawan, berteriak, atau kabur. Narasi seperti itu menyesatkan, karena mengabaikan fakta bahwa respons freeze adalah reaksi biologis yang sah dan umum terjadi.

Baca Juga: Sudah Saatnya Indonesia Naik Kelas, Kejar Pertumbuhan 8% melalui Sumber Daya Sekunder

Ketika korban tidak melawan, masyarakat bisa secara keliru menganggapnya sebagai bentuk persetujuan atau consent.

Akibatnya, banyak korban justru menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa kebingungan apakah tindakannya menolak sudah cukup jelas. Ada juga yang malah berpikir bahwa ketidakmampuan tubuh untuk bergerak memang dia sengaja.

Proses atribusi semacam ini bisa bikin trauma tambah parah. Rasa malu, jijik pada diri sendiri, ditambah stigma sosial, bikin pemulihan psikologis makin sulit.

Memahami tonic immobility sebagai respons yang tidak disengaja itu penting banget, mengingat pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja termasuk di tempat kerja.

Halaman:

Tags

Terkini