kubikel

4 Penyebab Rasa Kantuk yang Lebih Kuat Saat Menjalani Puasa Ramadhan di Kantor

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:35 WIB
Mengapa saat puasa rasa mengantuk lebih kuat? Ternyata ada sejumlah penyebabnya. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Rasa kantuk saat bekerja di siang hari adalah wajar. Rasa ini makin kuat ketika kamu menjalani puasa Ramadhan seperti saat ini.

Ini bukan karena sekadar kamu kurang “ngopi” namun kombinasi antara faktor fisiologi, metabolik, dan sirkadian.

Bagaimana faktor-faktor ini berperan dalam mendoromg rasa kantuk yang lebih kuat saat puasa Ramadhan? Berikut penjelasannya:

1. Perubahan Jam Biologis (Ritme Sirkadian)

Biological clock ada di hipotalamus. Ini adalah bagian kecil di otak, terletak di bawah talamus dan di atas batang otak, yang berfungsi sebagai pusat pengaturan utama tubuh (homeostasis).

Saat kamu puasa, harus bangun tidur lebih awal untuk sahur. Selain itu, kegiatan tadarusan setelah sholat tarawih juga bisa membuatmu tidur lebih larut.

Ini menyebabkan total durasi tidur sering berkurang atau kualitasnya yang turun. Ini menyebabkan akumulasi “hutang tidur ringan”.

Baca Juga: 8 Manfaat Kurma yang Membuatnya Tak Hanya Cocok Untuk Sahur dan Berbuka Puasa Saja

Akumulasi “hutang tidur ringan” ini menyebabkan rasa kantuk yang meningkat pada jam kerja pagi-siang. Plus terjadi post-lunch dip meskipun kamu tidak makan siang.

Post-lunch-dip adalah penurunan energi, kewaspadaan, dan fokus secara tiba-tiba yang umum terjadi di awal hingga pertengahan sore. Ini ditandai dengan rasa kantuk yang berat, kelelahan, dan keinginan untuk tidur.

2. Fluktuasi Gula Darah (Glukosa)

Saat glukosa dalam darah kamu naik, maka ada persediaan energi dan mendorong otak untuk aktif. Karena puasa, maka glukosa kamu menjadi lebih rendah, dan posisi ini stabil di batas bawah normal.

Sementara itu, otak kita sangat sensitif terhadap perubahan glukosa. Penurunan glukosa yang ringan saja sudah mendorong rasa kantuk dan lelah.

Ini bukan gejala hipoglikemia patologis (gula darah turun ke level berbahaya), namun tubuh sedang beralih ke sistem bahan bakar, yang semula menggunakan glikogen berubah ke menggunakan lemak.

Halaman:

Tags

Terkini