PejuangKantoran.com - Paling nggak senang kalau punya atasan yang hobinya ngatur atau memaksakan kehendak, dan menganggap ide dan masukan kita nggak layak dipertimbangkan. Padahal, bos pun nggak selamanya benar!
Beda pendapat dengan atasan atau orang yang punya posisi lebih tinggi di kantor itu memang serbasalah. Takut juga sih, kalau opini kita malah merusak reputasi atau bikin hubungan kerja jadi canggung.
Melody Wilding, penulis buku Managing Up: How to Get What You Need from the People in Charge, mengatakan, orang-orang yang piawai berkomunikasi tahu betul cara mendebat atasan senior tanpa menyakiti hati mereka.
Menurutnya, kuncinya adalah nggak langsung bilang, "Bapak salah." Pernyataan itu bakal dianggap sebagai serangan, dan bisa-bisa malah mengubah diskusi sehat jadi debat kusir.
Padahal, kalau caranya benar, beda pendapat dengan atasan justru bisa bikin kamu mendapat respek dan kepercayaan darinya. Mau tahu caranya?
Berikut cara mendebat atasan dengan elegan, dan bikin atasan makin respek sama kamu:
1. "Itu poin yang bagus. Tapi tantangan yang saya lihat adalah...."
Sebelum menyampaikan argumen untuk menolak pendapat atasanmu, cari dulu kesamaan atau titik temu yang bisa disetujui bersama. Mengakui sudut pandang atasan menunjukkan kalau kamu benar-benar menyimak, bukan cuma protes.
Cara ini juga bisa menurunkan ego si bos, sehingga mereka jadi lebih mau mendengarkan kelanjutan omonganmu. Kamu pun mendapat respek dan kepercayaan dari atasan.
Baca Juga: Harga Emas 8 Juni ini Masih di Bawah Rp2,8 Juta, Saatnya Borong atau Tunggu Turun Lagi?
Jangan bilang, "Nggak bisa. Anggarannya nggak ada", coba ganti jadi, "Betul, kita memang harus cepat. Tapi karena dana sudah dialokasikan ke pos lain, amannya kita ambil anggaran dari mana, ya?"
2. "Saya punya data yang sedikit berbeda di bagian itu...."
Orang-orang di posisi atas kadang memang nggak melihat detail yang terjadi di lapangan seperti yang kamu alami. Gunakan kesempatan ini untuk memaparkan tren atau dampak yang mungkin tidak mereka sadari. Kemas argumenmu agar bisa memperkaya ide mereka, bukan untuk mengoreksinya.
Sebagai contoh, kalau atasanmu menganggap sebuah fitur gagal karena penggunanya sedikit, berikan respons seperti: