PejuangKantoran.com - Di dunia kerja, kata "penjilat" atau "cari muka" selalu membawa stigma yang buruk. Siapa pun yang terlihat akrab, sering memuji, atau selalu setuju dengan keputusan atasan langsung dicap negatif oleh rekan kerja. Padahal, jika kita melihat dari kacamata manajemen, seorang CEO atau pimpinan perusahaan justru sangat membutuhkan orang-orang yang komunikatif dan bisa dipercaya.
Menurut Ranjay Gulati, seorang profesor di Harvard Business School, cara menjadi karyawan terbaik di kantor adalah dengan membangun kepercayaan (trust). Hubungan profesional tidak akan berkembang tanpa adanya rasa percaya. Oleh karena itu, mendekati atasan sebenarnya bukan hal yang salah. Yang membedakan nilainya adalah motivasi dan modal yang Kamu bawa: apakah Anda seorang penjilat toksik, atau seorang komunikator strategis?
Baca Juga: CEO Sebut Work-Life Balance sebagai “Red Flag”, Benarkah?
Baca Juga: Sifat yang Paling Disukai CEO untuk Jadi Karyawan Terbaik di Kantor, Tak Perlu Jadi Penjilat!
Baca Juga: Cara Ambil Hati Bos Tanpa Harus Jadi Penjilat
Memahami Batasan: Penjilat Toksik vs. Komunikator Strategis
Untuk meluruskan salah kaprah ini, kita harus bisa membedakan kedua profil karyawan yang sama-sama terlihat dekat dengan bos, namun memiliki dampak yang jauh berbeda bagi perusahaan:
Mengapa "Tidak Ada Salahnya" Cari Perhatian Atasan?
Banyak karyawan pintar yang kariernya mandek hanya karena mereka memilih untuk diam di pojokan kubikel, berharap kerja keras mereka akan "berbicara dengan sendirinya". Sayangnya, realitas di dunia profesional tidak seindah itu. Jika Anda memiliki kinerja yang bagus tetapi bersikap kaku atau menarik diri saat mengobrol dengan bos, kontribusi Anda terancam tidak terlihat.
Mencari perhatian atau "menjilat" dalam koridor yang sehat sebenarnya adalah bagian penting dari personal branding di kantor. Atasan bukanlah cenayang yang bisa menebak semua prestasi Anda tanpa dilaporkan. Ketika Anda aktif berkomunikasi, melaporkan progres kerja secara berkala, dan menunjukkan antusiasme terhadap visi CEO, Anda sedang menunjukkan kepercayaan berbasis karakter. Atasan akan melihat Anda sebagai orang yang konsisten antara ucapan dan tindakan.
Selama komunikasi tersebut didasari oleh niat membantu organisasi dan mempermudah kerja atasan—bukan memanipulasi keadaan—maka langkah tersebut sepenuhnya valid dan profesional.
Kesimpulan: Duet Maut Kompetensi dan Karakter
Menjadi karyawan terbaik dan kesayangan CEO memerlukan kombinasi yang seimbang antara performa kerja dan kemampuan interpersonal. Anda tidak bisa hanya mengandalkan salah satunya. Fokus pada kompetensi saja membuat Anda kaku, sementara fokus pada pendekatan saja membuat Anda menjadi penjilat tak berguna.