Tinggalkan Profesi Guru Bahasa Jepang, Mahatmi Rismartanti Mantap Jadi Sopir Bus di Prefektur Kanagawa

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 28 Juni 2026 | 20:05 WIB
ahatmi Rismartanti menjadi sopir bus perempuan asing pertama yang memegang visa Specified Skilled Worker tipe 1 di Prefektur Kanagawa, Jepang. (Yomiuri.co.jp)
ahatmi Rismartanti menjadi sopir bus perempuan asing pertama yang memegang visa Specified Skilled Worker tipe 1 di Prefektur Kanagawa, Jepang. (Yomiuri.co.jp)

Menghafal rute dengan jalan kaki

Saking niatnya untuk bekerja sebaik-baiknya, sebelum resmi menarik bus, Mahatmi sengaja menghafal rute jalanan dengan cara berjalan kaki langsung. Kadang dia masih agak kesulitan memahami logat bahasa Jepang beberapa penumpang. Tapi berkat cara mengeremnya yang halus dan suaranya yang ramah, para penumpang lokal justru sering memujinya.

"Banyak penumpang yang bilang, 'Kamu pintar banget mengeremnya,' atau 'Suaramu terdengar sangat menenangkan.' Saya bahkan baru belajar kosakata bahasa Jepang untuk kata 'menenangkan' itu dari teman-teman kerja di depo," cerita Mahatmi sambil tersenyum.

Baca Juga: Cara Menjawab Pertanyaan Wawancara 'Apakah Kamu Bisa Bekerja Sama dengan Orang Lain?'

Saat ditanya soal rasanya tinggal di Jepang, Mahatmi merasa seperti sedang hidup di dalam dunia anime yang dulu sering dia tonton. Ia bertekad untuk terus mencari pengalaman dan bertahan lama di profesi ini. Buat mengatasi kesepian, dia rutin menelepon orang tuanya di Indonesia setiap hari.

Solusi krisis pekerja di Jepang

Langkah Tokyu Bus merekrut pekerja asing seperti Mahatmi Rismartanti ternyata membawa dampak positif yang tidak terduga. Pihak manajemen mengatakan, kegigihan para pekerja asing rupanya ikut memicu motivasi positif bagi para sopir asli Jepang.

Apalagi, selama ini ada stigma kuat bahwa sopir bus di Jepang harus warlok dan harus pria. Sehingga menghadirkan perempuan dan pekerja asing menjadi strategi penting di tengah krisis pekerja yang makin parah.

Pemerintah Jepang sendiri menargetkan bisa menampung sekitar 22.100 pekerja asing di sektor transportasi otomotif hingga akhir Maret 2029 nanti.

Baca Juga: Mengapa Rekruter Bertanya, Apakah Kamu Bisa Bekerja sama dengan Orang Lain? saat Wawancara Kerja

Berdasarkan data dari Asosiasi Bus Jepang, per Mei kemarin sudah ada 26 sopir asing yang tersebar di wilayah Tokyo, Hokkaido, hingga Hiroshima.

Beberapa perusahaan bahkan mengaku memiliki ratusan armada bus yang terpaksa menganggur di garasi hanya karena tidak punya cukup sopir untuk menjalankannya.

Meski peluang untuk pekerja asing sudah dibuka lebar, aspek keselamatan tetap menjadi harga mati. Karena itu, asosiasi pengemudi bus mewajibkan seluruh perusahaan untuk memberikan pelatihan ketat, mulai dari pemahaman Undang-Undang Lalu Lintas hingga simulasi berkendara di jalan raya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: yomiuri.co.jp

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X