Pejuangkantoran.com -Pernahkah kamu punya sahabat atau orang dekat yang dulu rasanya akan selalu ada, tetapi pelan-pelan mereka menjauh?
Tak ada drama besar atau pertengkaran, hanya jarak yang makin terasa. Chat yang dulu cepat dibalas, sekarang cuma dibaca. Alasannya sopan, tetapi terlihat basa-basi.
Akhirnya, kamu dan dia benar-benar hilang kontak.
Namun, sebenarnya yang membuat sakit bukan hanya kehilangan kontak, tetapi pertanyaan yang muncul di dalam diri:
“Apa aku bikin kesalahan, ya?”
“Kenapa aku nggak cukup berharga untuk dipertahankan jadi sahabatnya, ya?”
Kalau kamu pernah ada di situasi ini, kamu pasti tahu rasanya. Ini bukan hanya tentang kehilangan orang dekat, tetapi tentang cara kamu melihat diri sendiri.
Baca Juga: Pentingnya Teman atau Sahabat di Tempat Kerja, Bisa Meningkatkan Performa Perusahaan, Lho!
Membuat kamu bertanya-tanya, “Salah aku apa?”
Saat orang terdekat menjauh, reaksi alami yang sering terjadi adalah menganalisis hingga sampai pada kesimpulan kalau orang tersebut “berubah” atau “memang nggak mau dekat lagi.”
Namun, kalau kita jujur, rasa sakit itu juga muncul karena sesuatu dalam diri kamu ikut terusik.
Ini karena kamu sering membangun identitas diri kamu lewat hubungan. Misalnya, merasa penting karena selalu jadi tempat curhat, jadi hang out partner, atau jadi penolong saat teman butuh.
Jadi, ketika hubungan itu memudar, kamu bukan hanya merasa kehilangan orangnya, tetapi juga bagian dari diri kamu.
Rasanya tidak hanya “dia sudah nggak mau bicara lagi sama aku,” tetapi juga “aku sudah nggak penting lagi”.
Artikel Terkait
Bung Karno dan Inspirasi Persahabatan dari Ikan Koi di Blitar
Makin Dewasa, Sebaiknya Hindari 8 Tipe Orang Seperti Ini untuk Jadi Teman, Bikin Capek Jiwa Raga!
Etika Split Bill atau Meminjamkan Uang kepada Keluarga dan Teman, Perlukah Buat Perjanjian?
Bukan Sekadar Hobi: Ini Cara Seru Menambah Teman dan Mengisi Waktu Luang