6 Cedera yang Bisa Kamu Alami Ketika Bermain Padel, serta 5 Cara Mengatasinya Supaya Tidak Mudah Cedera

photo author
Adhityaswara Nuswandana, Pejuang Kantoran
- Jumat, 12 Juni 2026 | 10:29 WIB
Cedera pada olahraga padel bisa dicegah selama kita rajin strength training dan pemanasan yang benar sebelum bermain padel (Freepik)
Cedera pada olahraga padel bisa dicegah selama kita rajin strength training dan pemanasan yang benar sebelum bermain padel (Freepik)

PejuangKantoran.com - Padel menjadi olahraga yang sangat populer belakangan ini, dengan konsep sosial yang kental dan relatif minim benturan (kontak fisik) seperti basket atau sepakbola, tetapi pola permainan yang dinamis dan suka melibatkan perubahan arah yang mendadak, serta ayunan raket yang berulang membuat resiko cedera tetap mengintai. Apa cedera yang sering dijumpai di olahraga padel dan bagaimana mengatasainya?

Baca Juga: 5 Hal Mengapa Padel Menjadi Salah Satu Olahraga Gen-Z yang Cocok Dimainkan Bareng Rekan Kerja Sepulang Aktivitas Kantor

Baca Juga: Kenapa Lapangan Padel Menggunakan Rumput Sintetis Bukan Beton atau Clay Seperti Lapangan Tennis, Serta Berwarna Cerah?

Berikut adalah beberapa jenis cedera yang paling sering dialami oleh pemain padel:

  1. Epicondylitis (Padel/Tennis Elbow). Peradangan pada tendon yang menghubungkan otot lengan bawah ke bagian luar siku. Biasanya terjadi karena teknik pukulan backhand yang kurang tepat, mencengkeram raket terlalu kuat, atau menggunakan raket yang terlalu berat/kaku.
  2. Sprain Pergelangan Kaki (Ankle Sprain). Peregangan atau robeknya ligamen di pergelangan kaki. Lapangan padel yang dilapisi rumput sintetis dan pasir halus terkadang bisa menjadi licin. Gerakan lateral (menyamping) yang cepat, pengereman mendadak, atau salah tumpuan saat berputar mengejar bola pantulan adalah pemicu utamanya.
  3. Cedera Lutut (Patellar Tendonitis & Cedera Meniskus). Nyeri pada bagian depan lutut akibat peradangan tendon patella, atau robekan pada tulang rawan penahan benturan (meniskus). Gerakan menekuk lutut secara berulang saat mengambil bola rendah (low volley) serta rotasi tubuh yang mendadak saat lutut dalam posisi mengunci.
  4. Rotator Cuff Injury (Cedera Bahu). Kerusakan atau peradangan pada otot dan tendon yang mengelilingi sendi bahu. Terlalu sering melakukan pukulan di atas kepala (overhead) seperti smash atau bandeja dengan posisi tubuh yang belum siap atau otot bahu yang belum terlatih.
  5. Nyeri Punggung Bawah (Lower Back Pain). Ketegangan otot atau masalah pada bantalan tulang belakang di area pinggang. Gerakan rotasi tubuh yang eksplosif saat memukul bola di dekat dinding kaca, dikombinasikan dengan posisi tubuh yang sering membungkuk saat mengantisipasi bola-bola rendah.
  6. Calf Strain (Cedera Otot Betis). Robekan mikro pada otot betis (sering disebut tennis leg). Bisa terjadi ketika melakukan gerakan refleks melompat atau melakukan akselerasi mendadak ke depan tanpa melakukan pemanasan (stretching) yang tidak maksimal di awal permainan.

Tips Pencegahan:

Untuk menghindari cedera di atas, pastikan:

  1. Anda selalu melakukan pemanasan minimal 5–10 menit sebelum bermain
  2. Gunakan sepatu khusus padel/tenis lapangan tanah liat (clay court) yang memiliki cengkeraman baik
  3. Pelajari teknik pukulan dasar yang benar bersama pelatih atau teman yang sudah terbiasa bermain padel
  4. Tahu batas diri juga menjadi penting supaya kita tidak terlalu bernafsu untuk terus-terusan bermain.
  5. Cedera yang terjadi juga bisa diringankan dengan melakukan kompres es batu di bagian yang sakit. Tetapi apabila sakit menetap lebih dari 72 jam, ada baiknya bertemu dokter atau fisioterapis khusus olahraga.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Adhityaswara Nuswandana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X