“Mi adalah satu hal, dan pasta adalah makanan yang sama sekali berbeda,” kata Anna Maria Pellegrino, sejarawan makanan dan anggota Akademi Masakan Italia.
“Hal-hal tersebut mencerminkan dua budaya dan identitas kuliner berbeda yang telah berkembang secara parallel.”
Pellegrino menambahkan, cara memasak pasta, panci dan jenis sereal yang digunakan, persiapan, bahan-bahannya, dan topping-nya sangat berbeda dan spesifik untuk setiap peradaban.
“Tidak ada hubungan langsung antara cara orang Asia dan Italia atau Mediterania dalam mencampurkan sereal dengan air untuk membuat mi atau pasta,” tegasnya.
Pasta sendiri menjadi makanan pokok bagi orang Italia selatan sekitar tahun 1700-1850, karena gandum yang ditanam di Sisilia dan Italia selatan mudah ditemukan dan relatif murah.
Konsumsi pasta orang Italia sendiri memang sangat besar. Jika mereka hanya makan spageti dalam setahun, itu sama dengan hampir 600 juta kilometer spageti.
Baca Juga: Mandi Air Dingin Saat Cuaca Panas Memang Segar, tapi Tak Disarankan untuk Semua Orang
Pasta dibawa ke Amerika
Pasta kering melonjak popularitasnya pada abad ke-14 dan ke-15, karena mudah disimpan. Hal ini memungkinkan orang untuk membawa pasta ke dalam kapal saat menjelajahi Dunia Baru.
Presiden AS ketiga Thomas Jefferson (1743 – 1826) adalah orang pertama yang membawa pasta ke Amerika. Selama tinggal di Paris, Presiden Jefferson makan masakan yang disebutnya “makaroni”, tapi bisa saja yang dia maksud sebenarnya jenis pasta lain.
Popularitas pasta pun semakin berkembang di AS pada akhir abad ke-19, ketika sekelompok besar imigran Italia (kebanyakan dari Napoli), pindah ke Amerika.
Dari berbagai jenis pasta, spageti adalah yang paling populer di Amerika.