Bumame dan Yayasan AIDS Siapkan Tes HIV dengan Layanan Homecare yang Menjamin Rasa Aman

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 3 Desember 2022 | 16:38 WIB
Ilustrasi: Dengan pengobatan rutin, ODHA tidak lagi dapat menularkan HIV/AIDS pada orang sekitarnya. (Pix4free.org)
Ilustrasi: Dengan pengobatan rutin, ODHA tidak lagi dapat menularkan HIV/AIDS pada orang sekitarnya. (Pix4free.org)

PejuangKantoran.com - Pemahaman masyarakat di Indonesia mengenai HIV/AIDS ternyata masih tergolong rendah. Banyak orang yang menjalani perilaku berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS pun enggan memeriksakan diri. Padahal jika dapat dideteksi sejak dini, ODHIV/ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) bisa mengonsumsi obat dan mendapatkan penanganan lain yang memungkinkan untuk tidak lagi menularkan ke orang lain.

ODHIV dan ODHA bahkan bisa memiliki pasangan hidup tanpa menularkan virus tersebut. Di samping itu, mereka bisa memiliki keturunan yang tidak turut terinfeksi HIV jika rutin mengonsumsi obat antiretroviral yang diberikan.

Keengganan orang berisiko HIV/AIDS untuk memeriksakan diri ini turut memicu peningkatan angka paparan HIV/AIDS. Data epidemiologi UNAIDS (United Nations Programme on HIV and AIDS) mengungkapkan bahwa jumlah orang terpapar HIV di dunia mencapai 38,4 juta jiwa di tahun 2021.

Baca Juga: Diskriminasi ODHA Masih Kuat, Padahal HIV/AIDS Bisa Dikontrol dengan Rutin Minum Obat

“Saat ini dari semua yang melakukan perilaku berisiko HIV atau tersangka HIV, baru 80% yang memeriksakan diri. Jika semua terdeteksi, memiliki akses ke pengobatan yang memadai dan mau mengonsumsinya secara rutin, niscaya kita bisa melenyapkan HIV di dunia,” kata Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, peneliti, Konsultan Hematologi-Onkologi, dan penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia.

Harapan tersebut sebenarnya sudah didukung oleh YAIDS (Yayasan AIDS Indonesia), yang kerap mengadakan tes HIV secara massal dengan dukungan tenaga kesehatan. Saat ini masyarakat pun dapat menjalani tes HIV secara gratis di Puskesmas yang dikenal dengan VCT (voluntary counselling and testing). Tes di Puskesmas tersebut dilakukan dalam tiga tahap, yaitu konseling pra-tes, tes HIV dan konseling setelah tes.

Selain Puskesmas, beberapa rumah sakit swasta dan klinik juga menyediakan tes HIV secara gratis, di antaranya adalah Ruang Carlo di RS St. Carolus dan Klinik Mentari.

Baca Juga: Atasi Penyebab Rambut Lepek Supaya Pakai Helm Saat Naik Motor Nggak Masalah Lagi!

Sementara itu, Bumame, perusahaan penyedia layanan kesehatan di Indonesia, menggandeng YAIDS untuk menyediakan layanan homecare berbayar untuk tes hematologi lengkap, tes HIV, dan tes darah lainnya. Pra dan pasca-konsultasi layanan tersebut dilakukan secara online oleh fasilitator dari YAIDS.

Kolaborasi antara Bumame dan YAIDS ini tentunya memberikan ruang aman bagi yang membutuhkan kenyamanan dan kerahasiaan identitas pribadi. Pendampingan dan dukungan moral yang menyeluruh pun selalu tersedia bagi pasien. Kerjasama ini sekaligus untuk menyebarkan kampanye melawan stigma dan diskriminasi bagi sahabat ODHIV/ODHA.

“Melalui gerakan edukasi, kami harap masyarakat dapat menanggapi isu HIV/AIDS dengan lebih objektif, serta meningkatkan kepedulian terhadap fungsi dan pentingnya melakukan tes HIV sebagai langkah pencegahan,” ucap James Wihardja, CEO Bumame, saat acara Bumame #AIDtoStop bersama Yayasan AIDS Indonesia di Anomali Coffee, Senopati, Jakarta, Kamis (1/12/2022) lalu.

Kolaborasi dengan Bumame disambut baik oleh YAIDS, karena dinilai mampu mengoptimalkan perluasan akses pencegahan, tes, dan kesetaraan pengobatan.

Baca Juga: 'Berdamai' dengan Resesi Ekonomi? Ini Caranya Buat Kamu Biar Tetap Bisa Ngopi di Kantor

“Kami mengapresiasi Bumame dalam upaya menyuarakan kampanye melawan ketidakadilan dan perilaku diskriminatif kepada sahabat ODHIV/ODHA,” ucap Arif Rahman, Ketua Sekertariat Yayasan AIDS Indonesia (YAIDS), dalam kesempatan yang sama. “Kami berharap gerakan ini dapat membantu proses integrasi sosial ODHIV/ODHA di masyarakat."

Harapan yang sama disampaikan Prof. Zubairi. Pendiri Yayasan Pelita Ilmu (YPI) dan Yayasan Lupus Indonesia (YLI) ini mengungkapkan, jika semua orang yang mengidap HIV berhasil diidentifikasi dan rutin menjalani penanganan, maka Indonesia bisa terbebas dari AIDS karena penularan dapat dicegah dengan pengobatan tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X