Mempunyai Buyer Persona Itu Penting Untuk Bisnis. Berikut Ini Langkah-Langkah Untuk Membuatnya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 23 April 2025 | 14:59 WIB
Menentukan buyer pesona itu sangat penting dalam strategi bisnis. (Freepik)
Menentukan buyer pesona itu sangat penting dalam strategi bisnis. (Freepik)

Pejuangkantoran.com – Mengetahui target market yang tepat itu seperti kamu berniat mancing ikan tertentu maka harus paham terlebih dahulu ikan iyu habitatnya di mana, suka umpan yang seperti apa, paling mudah ditangkap saat musim apa, dan sebagainya.

Dengan mengetahui target market, maka akan jauh lebih mudah menawarkan produk atau jasa kepada mereka. Salah satu cara mengetahui target market adalah dengan membuat buyer persona.

Buyer persona, atau ada yang menyebutnya personifikasi, adalah gambaran fiktif namun realistis dari pelanggan idealmu. Gambaran ini tidak asal dibuat akan tetapi dibuat berdasarkan data dan riset tentang target pasar.

Buyer persona mencakup nama fiktif namun representatif, misal: “Aluna Si Pekerja Keras”. Lalu usia, pekerjaan, lokasi tinggal, kebiasaan belanja, masalah (pain point), tujuan hidup atau keinginan, value dalam hiduonya, media yang sering digunakan, serta alasan membeli produk kamu.

Buyer persona dibuat untuk sejumlah tujuan, yaitu agar bisa:

  • Berkomunikasi dengan lebih relevan ke calon konsumen.
  • Menyusun strategi marketing yang tepat sasaran (iklan, konten, harga).
  • Mengembangkan produk atau layanan yang sesuai kebutuhan mereka.

Artinya, buyer persona itu alat yang digunakan untuk memahami konsumen dengan lebih tepat, sehingga semua pendekatan terhadap calon konsumen menjadi lebih tepat.

 Baca Juga: 6 Strategi agar Pemimpin Bisa Mengelola Feedback secara Efektif, Jangan Dibiarkan Begitu Saja!

Langkah-Langkah Membuat Buyer Persona

Berikut ini langkah-langkah yang bisa digunakan dalam membuat buyer persona.

  1. Kumpulkan Data Konsumen

Data is king itu bukan basa-basi. Dalam persaingan yang sangat ketat, kita harus benar-benar presisi dalam menentukan arah. Tools-nya adalah dengan data. Tujuannya adalah agar kita bisa mengetahui secara pasti, siapa konsumen/audiens kita. Kita bisa mengumpulkan aneka data dan informasi dari:

  • Survei online (misal, pakai Google Form);
  • Wawancara konsumen langsung;
  • Data pelanggan lama;
  • Statistik media sosial;
  • Review produk;
  • Feedback dari tim sales/customer service;
  • Aneka riset yang pernah dibuat seperti riset yang selalu dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) atau lembaga-lembaga riset independen lainnya.

Baca Juga: Ibarat Sedang Melakukan Pedekate, Sebagai Tenaga Marketing Kamu Harus Paham Consumer Insight. Ini Alasannya!

  1. Identifikasi Informasi Demografis

Data-data demografis itu penting, karena ini akan menunjukkan generasi konsumen, pola pikir (terkait dengan tingkat pendidikan), hingga daya beli. Dan setiap generasi konsumen punya karaktersitiknya masing-masing.

Misal, Gen Z pasti akan berbeda dari Gen X atau lulusan S1 cenderung beda dalam pola pikir disbanding dengan lulusan SD. Identifikasi seperti ini membantumu mengelompokkan audiens dalam berbagai kluster. Untuk itu, cari tahu hal-hal mendasar seperti:

  • Usia;
  • Jenis kelamin;
  • Pendidikan;
  • Pekerjaan;
  • Penghasilan (opsional);
  • Lokasi tinggal.
  1. Gali Psikografis dan Perilaku

Psikografis dan perilaku akan menunjukkan value dan cara pandang mereka terhadap suatu hal. Dengen menngetahuinya maka kamu menjadi tahu cara agar bisa relate dengan konsumen/audiens. Fokus ke “mengapa” dan “bagaimana” mereka bertindak:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X