Perusahaan Harus Waspada Terhadap Potensi Pelamar Menggunakan Deepfake di Proses Perekrutan

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 10:35 WIB
Waspada dan hati-hati bagi Departemen HR dan rekruter, potensi job interview menggunakan deepfake makin besar. (Freepik)
Waspada dan hati-hati bagi Departemen HR dan rekruter, potensi job interview menggunakan deepfake makin besar. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Dengan kemajuan teknologi AI generatif, batas antara konten asli dan hasil rekayasa digital semakin kabur.

Sekarang semua orang bisa memalsukan gambar, suara, dan wajah dengan sangat realistis dalam waktu singkat.

Kondisi ini menimbulkan risiko serius bagi perusahaan, pemerintah, dan individu karena penipuan identitas bisa dilakukan dengan metode yang jauh lebih canggih.

Di dunia kerja, teknologi AI bisa menimbulkan pelamar kerja palsu yang menjadi ancaman besar bagi perusahaan karena dapat digunakan untuk aksi kejahatan.

Misalnya saja pencurian data, mencari keuntungan finansial, hingga spionase.

Diperkirakan pada 2028, satu dari empat kandidat merupakan hasil rekayasa yang sebagian besar menggunakan teknologi AI.

Para perekrut mulai menyadari ancaman ini lewat tanda-tanda gerakan aneh dalam wawancara video.

Sayangnya, perlindungan yang ada saat ini masih belum cukup kuat untuk menahan serangan yang semakin canggih.

Baca Juga: 3 dari 4 Pencari Kerja Pakai AI untuk Mencari Pekerjaan, Siapa Mayoritas Pemakainya?

Penipuan identitas jadi tantangan baru di dunia rekrutmen

Penipuan identitas telah lama menjadi masalah di berbagai sektor, khususnya di industri keuangan.

Namun, kini para pelaku tak lagi perlu beroperasi secara diam-diam.

Mereka dapat tampil langsung dalam rapat video menggunakan wajah dan suara palsu yang tampak begitu meyakinkan hingga sulit dibedakan dari yang asli. Suara yang dihasilkan AI pun sering dianggap asli oleh orang yang diajak bicara.

Proses wawancara juga mulai disusupi dengan trik baru. Caranya dengan membuat seperti seseorang hadir saat wawancara, padahal yang mulai bekerja di hari pertama bukan orang tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Fast Company

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X