Terkadang Feedback Hanya Berisi Ungkapan Perasaan Pribadi dari Atasan. Bisakah Menolaknya?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 24 Juli 2025 | 10:15 WIB
Ilustrasi: Terkadang, umpan balik hanya berisi penilaian pribadi. Bisakah menolak feedback dari atasan? (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Terkadang, umpan balik hanya berisi penilaian pribadi. Bisakah menolak feedback dari atasan? (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Di dunia kerja, feedback sering dianggap sebagai salah satu kunci untuk berkembang. Mulai dari evaluasi rutin sampai komentar spontan, semuanya dapat menjadi peluang untuk memperbaiki diri.

Faktanya, tidak semua bentuk kritik membawa dampak positif. Ada yang disampaikan secara konstruktif dan membantu, tetapi ada juga yang justru terasa membingungkan, membuat frustrasi, atau bahkan tidak adil.

Banyak orang masih keliru dalam memahami makna feedback. Sering kali, perasaan pribadi dicampur dengan penilaian profesional.

Baca Juga: Resmi! Gaji PNS Naik 8 Persen Mulai 1 Agustus 2025, Ini Rinciannya

Ini dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri, padahal tujuan awalnya adalah untuk mendukung pertumbuhan. Karena itu, penting untuk mengenali kapan kamu perlu menerima umpan balik dan kapan bisa menolak feedback secara bijak.

Tidak semua komentar pantas dianggap sebagai masukan. Terkadang, beberapa hanya opini yang terucap tanpa pertimbangan matang.

Bedakan antara fakta dan opini

Feedback yang baik selalu berdasarkan fakta. Artinya, ada kejadian nyata yang dijelaskan, disertai dampaknya, penyebabnya, lalu diakhiri dengan saran perbaikan yang masuk akal. Kritik yang seperti ini membantu mengenali kebiasaan buruk atau kekurangan yang selama ini tidak disadari.

Sebaliknya, feedback yang tidak objektif biasanya didasarkan pada perasaan, asumsi, atau opini pribadi atasan, bukan pada fakta atau data kinerja yang spesifik. Feedback semacam ini seringkali terasa personal, tidak adil, dan bisa membuat karyawan merasa diserang atau tidak dihargai.

Contohnya begini, "Saya rasa kamu kurang termotivasi akhir-akhir ini. Kamu terlihat lesu dan sepertinya tidak bersemangat seperti dulu."

Baca Juga: Kabar Gembira! Mulai 2025, PPPK akan Dapat Uang Pensiun dan Jenjang Karir Seperti PNS

Kalimat tersebut hanya asumsi atasan terhadap perilaku karyawan. Atasan tidak menyertakan contoh spesifik kapan dan bagaimana karyawan menunjukkan "kurang termotivasi" atau "terlihat lesu."

Atau, kata-kata seperti “tidak profesional” tanpa penjelasan apa yang membuatnya demikian. Artinya, itu hanyalah sebuah opini. Ini justru berisiko membuat orang merasa diserang secara personal, terlebih jika disampaikan tanpa niat untuk membantu.

Tidak semua kritik wajib diterima

Feedback seharusnya membangun. Namun, jika yang diterima adalah kritik yang penuh emosi, terasa terlalu pribadi, atau disampaikan di luar konteks, maka tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan ulang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: stylist.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X