Begini Kepribadian Orang yang Lebih Nyaman dengan Komunikasi secara Tertulis daripada Lisan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 2 Januari 2026 | 22:11 WIB
Ilustrasi: Orang yang mengekspresikan diri lebih baik lewat tulisan punya tingkat kesadaran diri yang tinggi.  (Freepik)
Ilustrasi: Orang yang mengekspresikan diri lebih baik lewat tulisan punya tingkat kesadaran diri yang tinggi. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Banyak dari kita yang kalah saat beradu pendapat karena tidak ingat fakta-fakta kunci yang seharusnya kita sampaikan. Ketika momen berdebat sudah lewat, barulah kita ingat. “Seharusnya kemarin saya bilang begini!”

Hal ini juga sering terjadi di kantor saat rapat atau ngobrol langsung dengan atasan. Kita merasa sulit sekali menyampaikan isi pikiran. Tetapi begitu duduk menulis email atau pesan, kalimatnya justru mengalir dengan lancar dan rapi.

Ada pula rekan kerja yang terlihat kurang fasih berbicara di depan umum, namun hasil tulisannya selalu informatif dan enak dibaca. 

Baca Juga: Laporan RAN 2025: Janji Perusahaan Global Soal Rantai Pasok Bebas Deforestasi Masih Jauh dari Kenyataan

Ada beberapa alasan psikologis mengapa sebagian orang lebih efektif dengan komunikasi tertulis daripada komunikasi lisan. Ternyata, mereka yang lebih ekspresif lewat tulisan punya beberapa kepribadian yang unik. Simak apakah ini termasuk keunikan kamu:

Punya tingkat kesadaran diri yang tinggi. Banyak orang yang mengekspresikan diri lebih baik lewat tulisan dibandingkan lisan memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi. Menulis memberi jeda antara pikiran dan ekspresi.

Di jeda itulah seseorang sempat merenung, memahami perasaan, dan menata pikiran. Tidak heran jika mereka lebih mengenal pola emosi dan cara berpikirnya sendiri.

Kesadaran diri ini kemudian berdampak pada komunikasi yang lebih jujur, keputusan yang lebih matang, serta relasi kerja yang lebih sehat.

Punya empati dan kecerdasan emosional yang lebih dalam. Saat menulis, kita tidak melihat reaksi lawan bicara secara langsung. Karena itu, kita harus membayangkan bagaimana tulisan kita akan diterima.

Kebiasaan ini melatih kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Di lingkungan kerja, kemampuan ini terlihat dari email yang terasa hangat, pesan yang mempertimbangkan perasaan penerima, dan cara menyampaikan kritik tanpa menyakiti hati.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hiburan, Ini Manfaat Kesehatan Menyusun Puzzle Jigsaw untuk Otak Kamu

Jeli dan detail. Orang yang kuat dalam komunikasi tertulis juga biasanya sangat jeli dan detail. Ketika orang lain sibuk berbicara, mereka justru lebih banyak mendengarkan dan mengamati.

Detail kecil, perubahan nada, atau informasi yang terlewat sering mereka simpan dalam ingatan. Saat dituangkan ke dalam tulisan, semua detail itu membentuk gambaran yang utuh dan akurat.

Tidak jarang, laporan atau catatan dari rekan yang pendiam justru paling lengkap dan bisa diandalkan.

Komunikasi dipikirkan dengan matang. Dalam tulisan, tidak ada bantuan intonasi atau bahasa tubuh. Setiap kata harus tepat sasaran. Karena itu, mereka terbiasa menimbang pilihan kata, menyusun kalimat dengan hati-hati, dan mengantisipasi salah tafsir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Geediting.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X