PejuangKantoran.com - Idealnya, pekerjaan dan jatah libur dibagi secara adil di antara semua anggota tim. Namun, kenyataannya sering kali tidak seindah itu.
Saat ini, banyak karyawan yang belum punya anak mulai merasa kesal karena mereka terus-menerus harus siap mengambil alih pekerjaan rekan kerja mereka yang berulangkali izin karena ada keperluan keluarga. Biasanya, karena anak sakit.
Kalau kamu salah satu di antara karyawan yang kesal itu, perasaanmu valid. Berdasarkan survei dari ResumeLab, sekitar 72% karyawan merasa bahwa karyawan tanpa anak (baik karena belum punya anak ataupun karena masih lajang) sering diperlakukan tidak adil di tempat kerja.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan WFH Satu Hari dalam Seminggu bagi Pegawai ASN maupun Swasta, Enaknya Hari Apa?
Masalah utamanya adalah adanya anggapan bahwa waktu luang mereka dianggap kurang berharga dibandingkan mereka yang punya anak. Akibatnya, beban kerja tambahan dilimpahkan kepada mereka untuk mem-back up rekan kerja yang lagi ada urusan keluarga.
Ada cerita menarik dari seorang karyawan lajang yang mengirimkan curhatannya ke kolom nasihat The Cut. Dia cerita bahwa dirinya adalah karyawan termuda di perusahaannya.
Kantor tersebut sering membanggakan budaya work-life balance. Tapi buat dia, keseimbangan itu kayaknya cuma buat yang sudah punya anak. Banyak rekan kerjanya yang tergabung dalam "klub tiga anak" (salah satu jokes internal di kantornya) yang bikin dia sering diminta menggantikan pekerjaan mereka.
Bahkan, saat bosnya kembali dari cuti melahirkan, karyawan ini masih harus terus menggantikan tanggung jawab sang bos karena bosnya kesulitan mencari pengasuh anak.
Alasan semacam itu kerap merusak rencana pribadinya di luar jam kantor. Argumen sederhananya, "Waktu saya di luar jam kerja nggak kurang penting daripada waktu orang lain, hanya karena saya nggak punya anak!"
Hidup si lajang kurang berharga?
Baca Juga: Sesuai Janji Cellos Botak, Byon Combat Showbiz Vol. 7 akan Digelar di Malaysia April Mendatang!
Menanggapi hal ini, Allison Green, kolumnis di Ask a Manager, mengaku sering menerima surat serupa. Dia melihat bahwa kebijakan perusahaan yang hanya fokus pada kebutuhan karyawan dengan anak justru berisiko mengadu domba antarkaryawan.
“Kebijakan dan praktik yang hanya mempertimbangkan kebutuhan orang tua sementara mengabaikan yang lain hanya akan membuat orang tua dan mereka yang tidak punya anak saling bermusuhan.
"Hal ini akan mengalihkan perhatian dari tanggung jawab perusahaan untuk menciptakan pekerjaan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kehidupan semua orang,” ujarnya.
Isu ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial, termasuk melalui video TikTok dari Glassdoor. Platform pencari kerja ini menyoroti masyarakat kita yang cenderung memprioritaskan orang yang sudah berkeluarga atau punya anak.
Artikel Terkait
9 Buah yang Bisa Bantu Turunkan Kolesterol Usai Pesta Lebaran
Film Jumbo Bertahan Sebulan di Bioskop Korea, Ini 5 Fakta Menarik
Cara Merespons Jika Diundang Interview saat Lagi Liburan, biar Tetap Dapat Peluang Kerja
7 Tipe si Micro Behaviour di Kantor dan Cara Menghadapinya. Salah Satunya Menghadapi si Tukang Ghosting
Hati-hati, usai Lapor SPT Tahunan Banyak Beredar Pesan Penipuan dari Oknum Petugas Pajak
Pesan Paus dan Berita Seputar Gereja Kini Tersedia dalam Bahasa Indonesia di Vatican News
Jumlah Playtime Fortnite Anjlok, Epic Games Umumkan PHK Lebih dari 1.000 Karyawan