Curhat Karyawan Lajang yang Selalu Harus Back-up Teman Kantor yang Sering Izin Urusan Anak

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 27 Maret 2026 | 10:16 WIB
Ilustrasi: Banyak karyawan lajang atau tanpa anak yang kesal karena harus sering back up pekerjaan rekan kerja yang izin karena ada urusan keluarga. (Freepik/Krakenimages.com)
Ilustrasi: Banyak karyawan lajang atau tanpa anak yang kesal karena harus sering back up pekerjaan rekan kerja yang izin karena ada urusan keluarga. (Freepik/Krakenimages.com)

"Kita-kita yang mungkin masih melajang, tidak punya anak, atau misalnya sedang sibuk merawat orang tua, sering jadi merasa seolah hidup kita itu kurang berharga. Seakan-akan urusan apa pun yang sedang kita jalani tidak dianggap sepenting urusan mereka," tulisnya.

Sebaliknya, karyawan lajang atau tidak punya anak sering dibuat merasa seolah hidup mereka kurang berharga atau urusannya tidak begitu penting.

Baca Juga: Walk-In Interview di % ARABICA, Lowongan Kerja untuk 3 Posisi Profesional

Glassdoor menegaskan bahwa ini bukan soal konflik pribadi antarkaryawan, melainkan soal bagaimana perusahaan mencari solusi atas situasi tersebut agar tetap adil buat semua.

Tanggungjawab perusahaan

Seorang karyawan bernama Andra juga berbagi pengalaman sebagai wakil Gen Z. Di kantornya, karyawan dari generasi milenial dan Gen X boleh WFH karena alasan anak, sementara dia tidak mendapat izin yang sama.

"Orang-orang dari generasi milenial dan Gen X yang punya anak diberikan banyak kelonggaran untuk WFH atau mengambil cuti. Sementara orang-orang seperti kami bahkan nggak diizinkan WFH demi alasan kesehatan mental sesering mereka," tukasnya kesal.

Dia mempertanyakan kelonggaran tersebut yang sering disalahgunakan untuk mengabaikan pekerjaan, sementara dia bahkan kesulitan minta izin satu hari saja demi kesehatan mentalnya.

Baca Juga: Menyusuri Jakarta dengan Cerita: Saatnya Jadi Pemandu Wisata Profesional

Tentu saja, tidak ada yang melarang seseorang untuk punya anak dan memprioritaskan keluarga. Namun, sangat mengkhawatirkan kalau karyawan tanpa anak merasa kantor menganggap waktu mereka bisa dibuang begitu saja.

Buat yang sudah punya anak, nggak perlu protes pada yang lajang, "Lihat aja kalau kamu punya anak nanti!". Karena masalah serius seperti ini tidak seharusnya membenturkan kepentingan karyawan.

Perusahaan lah yang harus mengupayakan supaya tercipta lingkungan kerja yang benar-benar inklusif bagi semua orang, apa pun status keluarganya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Your Tango

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X