PejuangKantoran.com - Bagi banyak orang, perjalanan menuju kantor hanyalah bagian dari rutinitas harian, sesuatu yang dijalani tanpa banyak dipikirkan. Namun, di balik kebiasaan yang tampak sepele ini, penelitian terbaru menunjukkan adanya dampak yang lebih dalam, terutama terhadap kesehatan mental.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Transport & Health mengungkap bahwa durasi perjalanan harian memiliki kaitan langsung dengan risiko depresi. Penelitian ini dipimpin oleh Lee Dong-wook dari Departemen Kedokteran Kerja dan Lingkungan di Rumah Sakit Universitas Inha, Korea Selatan.
Dalam studi tersebut, tim peneliti menganalisis data dari lebih dari 23.000 pekerja berusia 20 hingga 59 tahun yang tergabung dalam Korean Working Conditions Survey. Hasilnya cukup mencolok.
Baca Juga: Digital Nomads Bisa Kerja Dari Mana Saja, Ini Kota Paling Mahal untuk Tinggal
Individu yang menghabiskan waktu perjalanan lebih dari 60 menit setiap hari, baik pergi maupun pulang kerja, terbukti memiliki kemungkinan 1,16 kali lebih tinggi mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang hanya menempuh perjalanan kurang dari 30 menit.
Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dalam konteks populasi besar, peningkatan risiko sebesar 16 persen menjadi signifikan.
Lebih jauh, penelitian ini juga menemukan bahwa dampak tersebut tidak merata pada semua kelompok. Pada laki-laki, hubungan antara perjalanan panjang dan depresi cenderung lebih kuat pada mereka yang belum menikah, tidak memiliki anak, atau bekerja dengan jam kerja panjang. Sementara pada perempuan, risiko meningkat terutama pada mereka yang memiliki dua anak atau lebih, atau bekerja dalam sistem shift.
Lalu, apa yang membuat perjalanan panjang begitu berpengaruh?
Baca Juga: Buat yang Mau Curhat soal Kantor atau Resign, Jepang Punya Bar 'Resign' Biar Nggak Burnout
Para peneliti menyebut bahwa commuting bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga sumber stres fisik dan psikologis. Waktu yang panjang di jalan mengurangi kesempatan untuk beristirahat, berolahraga, atau menjalani aktivitas personal yang menyenangkan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis kualitas hidup secara keseluruhan.
Dengan kata lain, semakin panjang waktu yang dihabiskan di perjalanan, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk memulihkan diri.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan tren serupa: semakin lama durasi perjalanan, semakin tinggi risiko masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan kelelahan.
Pada akhirnya, studi ini menggarisbawahi satu hal sederhana namun penting—bahwa keseimbangan hidup tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan itu sendiri, tetapi juga oleh perjalanan menuju ke sana.
Karena dalam ritme hidup modern, jarak ternyata bukan hanya soal kilometer, tetapi juga tentang bagaimana waktu yang hilang di perjalanan bisa perlahan berdampak pada kesehatan mental.
Artikel Terkait
Wajarkah Jika Rekruter Meminta Slip Gaji di Kantor Lama sebagai Bukti Penghasilan Kamu?
Bagi Level Manajerial, Lakukan Audience Mapping dengan 4 Komponennya Agar Komunikasi ke Tim Efektif
5 Cara Merespons Permintaan Slip Gaji agar Proses Rekrutmen Berjalan Lebih Adil dan Transparan
Kerja Sebelum Jam 10 Pagi Bisa Bikin Kamu Tak Fokus Kerja dan Brain Fog
Bagaimana Dampak Buruk NPD pada Organisasi Kantor dan Bisa Membuat yang Bertalenta Resign?
Tanda-tanda Kamu Mulai Keteteran saat Mengerjakan Project, Kapan Harus Memberi Tahu Atasan?
5 Strategi Mengerjakan Project untuk Mencegah Keteteran dan Nggak Jadi Beban Pikiran
4 Respon yang Harus Kamu Lakukan Dalam Menghadapi Atasan yang NPD alias Narcissistic Personality Disorder
Dikira Nggak Profesional, Ternyata Ini Alasan Gen Z Sering Tak Balas Email
5 Contoh Respon yang Tepat Ketika Menghadapi Atasan dengan NPD