Selain itu juga analisis internal moility rate, persentase karyawan yang berpindah peran di dalam perusahaan dalam periode tertentu, tanpa keluar dari organisasi.
- Intervensi
Lakukan intervensi di 4 akar masalah utama. Di mulai dari work-life conflict (double burden), lalu career stagnation, kemudian manager bias yang sering memicu terjadinya “people leaves managers”, dan burnout dan invisible load (beban kerja yang tak terlihat tapi menyita effort kerja).
Lakukan juga program spesifik yang menargetkan karyawan Perempuan untuk menjalani mid-career retention program seperti coaching, career path clarify, dan flexible arrangement khusus. Dorong promosi kepada talenta yang memang benar-benar potensial bagi Perusahaan.
Baca Juga: Kesenjangan Upah Berbasis Gender Di Singapura Mengecil, Perempuan Makin Berpeluang Jadi Pemimpin
Bagi yang sempat melakukan career break, buatkan returnship program dan melakukan leadership fast-track yang menargetkan talenta-talenta potensial sejak dari awal. Berikan kesempatan yang bersangkutan untuk telribat dalam proyek-proyek strategis dan akses ke senior leader.
Jika ditangani dengan serius, maka turnover akan turun, leadership pipeline kuat. Masalah mid-career drop pun bisa teratasi dengan baik. ***
Artikel Terkait
Apa Sebenarnya Toilet Gender Netral, yang Disebut Daniel Mananta Ada di Sekolah Internasional?
5 Strategi Pemimpin untuk Mencegah Burnout pada Karyawan, Jadilah Role Model yang Baik
Strategi Menjelaskan Career Break karena Tujuan Profesional, Supaya Kamu Terlihat Semakin Berkualitas!
Talenta Digital Jadi Rebutan, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan di Indonesia Saat Ini
8 Early Warning Signal pada Karyawan yang Bisa Menjadi Indikator Akan Adanya Turnover yang Wajib DIketahui HR