Survei lain menunjukkan bahwa dengan motivasi kerja menurun, banyak karyawan merasa kewalahan. Ini membuat kepercayaan terhadap perusahaan ikut melemah.
Artinya, tekanan setelah PHK bukan sekadar respons emosional sesaat, tetapi tantangan nyata yang mempengaruhi aktivitas kerja sehari-hari.
Langkah nyata pemimpin setelah PHK
Peran pemimpin dan manajer sangat penting dalam menjaga stabilitas tim setelah masa PHK.
Beberapa langkah strategis dapat diterapkan untuk mengurangi dampak sindrom penyintas di tempat kerja.
- Menjaga kejujuran dan transparansi
Menyampaikan kondisi perusahaan secara terbuka membantu membangun kepercayaan dan menciptakan rasa aman di antara karyawan.
Ketika informasi disampaikan dengan jujur, karyawan cenderung merasa lebih dihargai dan tidak terpinggirkan.
Baca Juga: Badai PHK Juga Membuat Karyawan yang Bertahan Lelah, Bingung, dan Tidak Diperhatikan
- Menjelaskan ulang peran dan tanggung jawab
Restrukturisasi tim memerlukan kejelasan peran agar proses adaptasi berjalan lancar.
Ini karena karyawan perlu memahami tanggung jawab barunya dan merasa didampingi selama transisi.
Jadi, komunikasi yang konsisten menjadi kunci untuk menghindari kesalahpahaman.
- Memberikan rasa aman dalam bekerja
PHK sering menimbulkan rasa tidak aman di kalangan karyawan.
Memberikan apresiasi atas kontribusi mereka dan terbuka terhadap masukan dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri serta menjaga motivasi tetap stabil.
- Membangun kembali semangat tim
Tim membutuhkan waktu untuk kembali stabil setelah melalui masa sulit.
Untuk memberikan dukungan, wujudkan melalui peningkatan kerja sama tim, ruang diskusi yang terbuka, dan apresiasi setiap kontribusi yang diberikan.