Menurut data dari Royal College of Obstetrics and Gynaecology, dokter yang sedang menjalani pelatihan spesialis biasanya belajar dua bidang: obstetri dan ginekologi.
Obstetri fokus pada kehamilan dan persalinan, sedangkan ginekologi lebih ke aspek non-kehamilan dari sistem reproduksi perempuan.
Nah, saat mereka harus memilih, pola gender terlihat jelas.
Baca Juga: Aman Nggak Sih, Minum 2-3 Cangkir Kopi Sehari? Jawabannya Ternyata Tidak Sesederhana Itu
“Laki-laki cenderung memilih ginekologi, sementara perempuan lebih banyak memilih obstetri,” terang Dr. Mitra.
Ini bisa jadi karena ginekologi lebih kental dengan aspek bedah, dan dunia bedah memang sudah lama dikenal sebagai ranah yang didominasi pria.
“Pelatihan bedah itu intens, dengan jam kerja yang panjang. Kalau kamu sedang membangun keluarga atau hanya bisa bekerja paruh waktu, itu jadi tantangan besar,” lanjutnya.
Dokter kandungan di Indonesia
Meskipun zaman sudah berubah, Dr. Mitra juga tidak menutup mata bahwa diskriminasi gender di tempat kerja masih terjadi. Meski begitu, ia tetap menyemangati perempuan yang ingin menekuni profesi ini.
“Syukurlah sekarang sudah banyak ginekolog dan ahli bedah perempuan yang inspiratif. Jadi jangan menyerah kalau ini adalah jalur karier yang kamu minati,” tuturnya.
“Nggak ada yang mustahil!” tutupnya penuh semangat.
Namun buat kamu yang masih bingung menentukan apakah harus banget periksa ke dokter kandungan laki-laki, tak perlu khawatir. Saat ini jumlah dokter kandungan (SpOG) perempuan di Indonesia sebenarnya sudah mengalami peningkatan.
Rasio antara dokter perempuan dan laki-laki bahkan sudah mencapai 2:3, demikian menurut Ketua Umum POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) Profesor Yudi Mulyana Hidayat.
Memang selama ini dokter kandungan kebanyakan laki-laki. Rasio perbandingan antara perempuan dan laki-laki hanya berada pada 1:3.