Menurut Javier, ini membuat persaingan jadi lebih adil, karena siapa pun bisa membuat dokumen profesional dengan kualitas tinggi. Jadi, bukan hanya untuk orang-orang yang punya mentor karier pribadi.
Namun, ada catatannya. Javier menegaskan bahwa AI hanya membantu kalau kamu tetap memeriksa dan menyempurnakan hasilnya. Jangan asal pakai tanpa disunting lagi.
Baca Juga: Bukan Cuma Kerja dari Rumah, Ini Makna Sebenarnya dari Fleksibilitas Kerja yang Bikin Karyawan Happy
2. Wawancara awal makin sering dilakukan oleh AI
Semakin banyak perusahaan yang memakai sistem otomatis untuk menyaring pelamar. Survei Resume Builder pada Oktober 2024 menemukan bahwa 8 dari 10 perusahaan kini menggunakan AI dalam proses perekrutan awal.
Keuntungannya, proses jadi lebih cepat. Namun kekurangannya, wawancara kerja dengan AI bisa terasa “dingin” dan tidak manusiawi. Kandidat pun sering bingung bagaimana cara tampil meyakinkan di depan kamera tanpa lawan bicara betulan.
3. AI membantu menemukan pekerjaan yang benar-benar cocok
Bagi pencari kerja, AI juga punya sisi positif yang besar. Misalnya di LinkedIn, yang sistemnya kini bisa mencocokkan pengalaman dan keahlian pengguna dengan lowongan yang relevan sehingga tidak perlu repot mencari satu per satu.
Baca Juga: Yang Bikin Pebulutangkis Liliyana Tak Pernah Puas dan Punya Keinginan Kuat untuk Jadi Juara
“Dengan bantuan AI, kandidat bisa fokus melamar pekerjaan yang benar-benar sesuai. Ini juga membantu perusahaan menemukan kandidat yang pas tanpa harus menyaring ratusan lamaran,” jelas Javier.
Simpulannya, AI memang sudah mengubah cara kita bekerja dan mencari pekerjaan. Namun, seperti alat lainnya, hasilnya tergantung pada bagaimana menggunakannya.
Kalau dimanfaatkan dengan bijak, AI bisa jadi sahabat terbaik pencari kerja, bukan cuma ancaman.