Obrolan basa-basi memang aman, tapi tidak membangun kedekatan. Orang dengan teman setia berani terbuka tentang kesulitan, tapi tidak menjadikan teman sebagai pelampiasan emosi.
Kuncinya ada pada timbal balik: sama-sama berbagi, sama-sama menampung.
Baca Juga: Kisah 'Sengkolo Petaka Satu Suro' Diilhami Pengalaman Penulis yang Diganggu Kuntilanak saat Hamil
5. Tulus merayakan keberhasilan orang lain
Respons terhadap kabar baik sering kali lebih menentukan daripada respons saat kabar buruk. Riset menunjukkan bahwa active-constructive responding, yang dilakukan dengan bertanya, antusias, dan ikut merayakan, sangat memperkuat kualitas hubungan.
Teman yang setia adalah mereka yang bersorak paling keras saat kita berhasil, tanpa dilanjut adu nasib dengan mereka sendiri.
6. Punya inisiatif
Pertemanan itu bukan status pasif. Daripada bertanya-tanya, "Kenapa si A nggak pernah ngontak aku lagi?", lebih baik kamu yang melakukannya. Tanyakan kabarnya tanpa diminta, ajak bertemu, dan selalu ingat ulang tahunnya. Ini menunjukkan kamu perhatian.
7. Berani bicara kalau ada masalah
Punya teman setia bukan berarti nggak pernah berselisih paham. Kalau kamu merasa tidak sependapat tentang sesuatu hal, jangan ragu menyampaikan. Bicarakan kalau ada masalah sebelum berubah jadi dendam, dan minta maaf jika kamu yang salah.
Baca Juga: Contoh Surat 'To Whom It May Concern' dan Kapan Sebaiknya Tidak Menggunakan Salam Pembuka Ini
8. Tetap menjadi diri sendiri
Kamu tidak perlu berpura-pura agar disukai. Sebagai teman, kamu tetap nyaman dengan keunikan, pendapat, bahkan menjalani hobi yang berbeda. Keterusterangan ini membuat orang lain ikut merasa aman menjadi diri sendiri.
Pertemanan yang langgeng itu bukan soal menemukan orang yang sempurna, kok. Seperti di dunia kerja, kualitas hubungan dibangun dari konsistensi, komunikasi, dan niat baik. Yuk, biasakan mulai sekarang.