PejuangKantoran.com - Penyakit tiroid di Indonesia sampai sekarang masih kurang penanganannya. Berdasarkan data tahun 2022, prevalensi hipotiroid (kekurangan hormon tiroid) mencapai 12,4 juta orang dengan tingkat penanganan masih rendah 1,9%.
Sedangkan prevalensi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) sebanyak 13,2 juta dengan tingkat penanganan hanya 6,2%. Artinya, tidak mencapai 1 juta pasien yang tertangani.
Untuk itulah, International Thyroid Awareness Week (ITAW) atau Pekan Kesadaran Tiroid Internasional dan Hari Tiroid Sedunia yang jatuh setiap 25 Mei menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini gangguan tiroid.
Baca Juga: Penyakit Tiroid Sering Tak Tertangani, PB IDI Luncurkan Program Raise Tiroid di Hari Tiroid Sedunia
Seberapa penting menjaga hormon tiroid, dan apa dampak dari penyakit tiroid yang tidak tertangani? Berikut tiga fakta penting tentang hormon tiroid agar terhindar dari ancaman penyakit yang bisa menyerang di setiap fase kehidupan seseorang ini:
1. Gangguan tiroid membuat orang di usia pekerja menjadi tidak produktif
Di tahun-tahun mendatang, menurut Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Pengurus Besar IDI, dr. Agustina Puspitasari, SpOK, SubSp.BioKO(K), Indonesia akan memasuki era pekerja, di mana mayoritas usia penduduknya ada di kategori produktif.
Gangguan tiroid, menurutnya, bisa melanda setiap fase kehidupan. Namun bagi orang dewasa di usia pekerja, gangguan tiroid bisa menyebabkan sering sakit-sakitan sehingga kerap tidak masuk kerja dan menjadi tidak produktif.
Jika kondisi ini terjadi dan tidak ditangani, tentunya kita gagal mendapatkan hasil positif dari bonus demografi penduduk yang produktif.
Gangguan tiroid juga dapat menyebabkan dua penyakit terkait, yaitu hipotiroid dan hipertiroid. Dampak dari hipotiroid adalah anak bisa cacat lahir, ketidaksuburan pada perempuan, masalah hati, generasi yang hilang dan masalah kesehatan jiwa.
Sedangkan dampak dari hipertiroid bisa menyebabkan pelebaran jantung, arrythmia, serangan jantung, dan osteoporosis.
"Dua dampak ini menjadi hal mendesak yang harus dicegah dan ditangani secara serius," tukas dr. Agustina saat penandatangan Nota Kesepahaman program RAISE Skrining Tiroid di Sheraton Gandaria City, Jakarta, Kamis (25/5/2023).
Baca Juga: Minum Kopi Pagi-pagi saat Perut Masih Kosong, Bahaya Nggak Sih?
2. Gangguan tiroid tidak bisa ditangani satu dokter
Fakta penting tentang hormon tiroid yang perlu diketahui selanjutnya oleh pekerja di usia produktif menyangkut tim dokter yang menanganinya.
Artikel Terkait
Nurhali, ASN Terkaya dari Banten, Punya Harta Rp802 M. Lebih Kaya dari Presiden Jokowi!
Perlu Nggak Sih Kirim Email Perpisahan ke Klien Saat Mau Resign?
Kiat Sukses Bisnis Clinton Augusto dan Sally Varsy yang Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2023
Ini Dia Bocoran Waktu Terbaik Agar Dapat Harga Tiket Pesawat Murah untuk Liburan, Ada Tipsnya Juga!
ARMY Luar Sebut Tiket Konser Suga BTS di Jakarta Mudah Didapat di Venue, Indomy: "Itu Sih, Calo!"
Cek Paspor Kamu! Ini Daftar Negara yang Tak Terima Paspor Masa Berlaku di Bawah 6 Bulan