Kenali 3 Fakta Penting Tentang Hormon Tiroid bagi Pekerja di Usia Produktif

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 27 Mei 2023 | 09:42 WIB
Ilustrasi: Kelenjar tiroid, yang terletak di bawah jakun, adalah kelenjar yang melepaskan dua hormon utama: T3 dan T4. (Freepik)
Ilustrasi: Kelenjar tiroid, yang terletak di bawah jakun, adalah kelenjar yang melepaskan dua hormon utama: T3 dan T4. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Penyakit tiroid di Indonesia sampai sekarang masih kurang penanganannya. Berdasarkan data tahun 2022, prevalensi hipotiroid (kekurangan hormon tiroid) mencapai 12,4 juta orang dengan tingkat penanganan masih rendah 1,9%.

Sedangkan prevalensi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) sebanyak 13,2 juta dengan tingkat penanganan hanya 6,2%. Artinya, tidak mencapai 1 juta pasien yang tertangani.

Untuk itulah, International Thyroid Awareness Week (ITAW) atau Pekan Kesadaran Tiroid Internasional dan Hari Tiroid Sedunia yang jatuh setiap 25 Mei menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini gangguan tiroid.

Baca Juga: Penyakit Tiroid Sering Tak Tertangani, PB IDI Luncurkan Program Raise Tiroid di Hari Tiroid Sedunia

Seberapa penting menjaga hormon tiroid, dan apa dampak dari penyakit tiroid yang tidak tertangani? Berikut tiga fakta penting tentang hormon tiroid agar terhindar dari ancaman penyakit yang bisa menyerang di setiap fase kehidupan seseorang ini:

1. Gangguan tiroid membuat orang di usia pekerja menjadi tidak produktif

Di tahun-tahun mendatang, menurut Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Pengurus Besar IDI, dr. Agustina Puspitasari, SpOK, SubSp.BioKO(K), Indonesia akan memasuki era pekerja, di mana mayoritas usia penduduknya ada di kategori produktif.

Gangguan tiroid, menurutnya, bisa melanda setiap fase kehidupan. Namun bagi orang dewasa di usia pekerja, gangguan tiroid bisa menyebabkan sering sakit-sakitan sehingga kerap tidak masuk kerja dan menjadi tidak produktif.

Jika kondisi ini terjadi dan tidak ditangani, tentunya kita gagal mendapatkan hasil positif dari bonus demografi penduduk yang produktif.

Gangguan tiroid juga dapat menyebabkan dua penyakit terkait, yaitu hipotiroid dan hipertiroid. Dampak dari hipotiroid adalah anak bisa cacat lahir, ketidaksuburan pada perempuan, masalah hati, generasi yang hilang dan masalah kesehatan jiwa.

Sedangkan dampak dari hipertiroid bisa menyebabkan pelebaran jantung, arrythmia, serangan jantung, dan osteoporosis.

"Dua dampak ini menjadi hal mendesak yang harus dicegah dan ditangani secara serius," tukas dr. Agustina saat penandatangan Nota Kesepahaman program RAISE Skrining Tiroid di Sheraton Gandaria City, Jakarta, Kamis (25/5/2023).

Baca Juga: Minum Kopi Pagi-pagi saat Perut Masih Kosong, Bahaya Nggak Sih?

2. Gangguan tiroid tidak bisa ditangani satu dokter

Fakta penting tentang hormon tiroid yang perlu diketahui selanjutnya oleh pekerja di usia produktif menyangkut tim dokter yang menanganinya. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X