PejuangKantoran.com - Video-video YouTube, Instagram, dan TikTok, dibanjiri dengan tayangan mukbang.
Mukbang adalah istilah yang menggabungkan kata Korea dari meokneun (meok) atau makan dan bangsong (bang) atau siaran. Namun siaran makan ini didominasi dengan tayangan orang-orang yang makan makanan dalam jumlah yang berlebihan.
Meskipun video tersebut mungkin memiliki daya tarik tertentu bagi penikmatnya, tetapi pakar kesehatan mengatakan bahwa sering menonton video mukbang dapat berdampak buruk pada pola pikir seseorang terhadap makanan.
Baca Juga: Stop Merokok Sekarang Juga, Risiko Kematian Akibat Jantung Koroner Turun 50 Persen
Apalagi bagi penderita memiliki kelainan makan atau yang memiliki hubungan erat dengan diet. Mulai dari penyajian porsi yang tidak realistis hingga mempromosikan pemborosan makanan, ahli melihat tanda bahaya dalam bentuk “hiburan makan” ini.
Mukbang dan gangguan makan
Memang, tidak ada salahnya menikmati tayangan orang yang sedang makan. Namun, para ahli diet berpendapat bahwa mukbang bisa mengubah kesenangan alami tersebut menjadi sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah.
Shelby Becker, RD, yang berspesialisasi dalam merawat pasien dengan gangguan makan, mengatakan, “Normalisasi perilaku ini (makan dalam jumlah yang sangat besar) dapat berdampak pada orang dengan gangguan makan karena dapat dianggap sebagai porsi makan yang normal.”
Apalagi jika orang yang melakukan mukbang memiliki tipe tubuh kurus atau ideal, yang dapat menambah kebingungan dan rasa malu bagi orang-orang yang mengalami kenaikan berat badan akibat makan berlebihan.
Lalu, video mukbang juga tidak menunjukkan efek buruk terhadap tubuh akibat terlalu banyak makanan.
"Video-video ini mendorong konsumsi berlebihan dengan cara tidak menormalkan konsekuensi potensial seperti sakit perut, mual, peningkatan makan emosional, dan lain sebagainya," jelas Shelby.
Menonton mukbang juga dapat berdampak negatif pada orang-orang mereka yang cenderung kurang makan, seperti kasus anoreksia nervosa.
Menurut ahli diet Caroline Thomason, RD, CDCES, video ini bisa digunakan sebagai cara untuk mensimulasikan pengalaman makan tanpa mengonsumsi makanan apa pun.
Baca Juga: Enak dan Kenyang, Tetapi Ini Akibatnya Jika Keseringan Makan Mie Instan dengan Nasi Putih
“Seseorang dengan kelainan makan mungkin hidup dengan cara melihat seseorang makan makanan dalam jumlah besar dan tidak memberi makan dirinya sendiri dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Artikel Terkait
Tegaskan Indonesia Tak Dapat Didikte Siapapun, Jokowi: Pancasila Relevan untuk Dunia
Ende, Kota Pengasingan Presiden Soekarno Sekaligus Tempat Ia Merenungkan Konsep Pancasila
Apa Itu Strawberry Full Moon yang Jatuh pada Sabtu 3 Juni, dan Dampaknya untuk Tiap Zodiak?
PT KAI Kembali Buka Rekrutmen Eksternal Gelombang II, Lulusan SLTA dan D3 Boleh Daftar
Dukung Perkembangan Seni dan Budaya Indonesia, Bakti Budaya Djarum Foundation Raih Rekor MURI
Betulkah Erick Thohir Jadi Alasan Tim Argentina Mau Datang dan Bertanding Melawan Indonesia?