Konten yang bikin orang marah, kesal, atau menghakimi biasanya naik ke atas. Hasilnya:
- Kita sering terpapar konten yang memancing untuk ikut-ikutan judgmental.
- Kita terbiasa melihat orang dihakimi, sehingga melihat ini hal yang normal.
4. Social comparison (perbandingan sosial) memicu judgmental
Saat melihat orang lain lebih sukses, lebih ramping, lebih dicintai, atau hidupnya terlihat lebih “sempurna”, otak bisa bereaksi dan mendoronng kita untuk judgemental kepada diri sendiri atau orang lain.
5. Anonimitas membuat orang lebih berani menghakimi
Di dunia nyata orang cenderung menahan komentar agresif. Namun di media sosial orang bisa anonim, tidak bertemu langsung, dan tidak melihat efeknya pada orang lain. Ini membuat orang lebih berani memberi komentar pedas, kritik kasar, body shaming, hingga character judgment.
Dan ini semua dilakukan tanpa merasa bertanggung jawab terhadap efeknya.
Baca Juga: Gunakan Emphaty Taking Agar Punya Keputusan yang Lebih Manusiawi dan Kontekstual
6. Echo chamber memperkuat keyakinan judgmental
Media sosial sering mempertemukan kita dengan mereka yang mirip pendapatnya, mirip cara pandangnya, atau mirip nilai-nilainya dengan kita. Ini bisa mendorong ego kita untuk merasa bahwa kita paling benar, dan yang berbeda langsung dianggap salah.
Situasi ini akan meningkatnya polaritas dan judgmental terhadap kelompok lain.
7. Budaya “hot take” mendukung penilaian terburu-buru
Budaya hot take mendorong orang di media sosial untuk melakukan komentar cepat, opini singkat, atau kesimpulan instan. Semakin cepat hot take-nya, semakin dilihat orang.
Ini berlawanan dengan pentingnya fakta lengkap, mendengar dua sisi (cover both side), dan berpikir tenang
Karena budaya hot take ini menyebabkan judgmental jadi sebuah norma.
Pada akhirnya, bijaklah dalam bermedia sosial karena media ini sudah menjadi bagian dari hidup kita. dengan bijak dalam bermedai sosial, bisa menghindarkanmu terjebak menjadi orang yang judgemental. ***