Menurut Ahli Karier dari LinkedIn Ambisi Tenang Itu Membuatmu Bijak Mengambil Keputusan Karier

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 11 Oktober 2025 | 14:35 WIB
Ketika jam kerja usai, laptop kamu turup dan tidak membuka email di tengah malam saat tidak urgent adalah salah satu yang menunjukkan ambisi yang tenang. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika jam kerja usai, laptop kamu turup dan tidak membuka email di tengah malam saat tidak urgent adalah salah satu yang menunjukkan ambisi yang tenang. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Selama ini, banyak dari kita diajarkan bahwa sukses di tempat kerja itu harus terlihat jelas. Kerja lembur tiap hari, promosi cepat, jadi manajer di usia muda, atau punya jabatan keren di LinkedIn.

Namun, sebenarnya sukses tidak selalu harus seramai itu. Ada tren baru yang sekarang mulai banyak dibicarakan, namanya ambisi yang tenang.

Ambisi tenang bukan berarti kamu malas, tidak punya mimpi, atau tidak mau berkembang. Justru sebaliknya. Ini adalah cara mengejar karier dengan lebih sadar, strategis, dan sesuai dengan nilai hidup sendiri, tanpa harus ikut-ikutan standar orang lain.

Menurut laporan dari KickResume, kini keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi jadi prioritas utama bagi generasi muda.

Artinya, banyak orang yang tidak lagi mau mengorbankan kesehatan mental atau waktu keluarga hanya demi terlihat “sibuk” atau “produktif”.

Apa itu ambisi tenang?

Ahli karier dari LinkedIn, Charlotte Davies, menjelaskan bahwa ambisi tenang dimulai dari menentukan apa yang benar-benar kamu inginkan dari karier, bukan hanya mengejar hal-hal yang terlihat keren di CV.

Baca Juga: Quiet Ambition, Saat Ambisi Karyawan Sudah Bukan Lagi tentang Gaji Tinggi atau Jabatan

Misalnya:

  • Daripada memaksa naik jabatan jadi manajer, mungkin kamu lebih suka menjadi spesialis ahli di bidang yang dikuasai.
  • Daripada lembur tiap malam, kamu lebih memilih punya waktu untuk keluarga atau hobi.
  • Daripada ikut-ikutan “siapa yang paling sibuk”, kamu lebih memilih kerja pintar dan efisien.

Davies juga bilang, pendekatan seperti ini justru membuat kamu lebih bijak mengambil keputusan karier, bisa membuat batasan kerja yang sehat, dan mengurangi risiko burnout.

Contoh sederhananya adalah mematikan laptop saat jam kerja selesai dan tidak mengecek email kantor tengah malam kecuali benar-benar urgent.

Generasi muda tidak memaksa jadi bos untuk dibilang sukses

Tren ini juga terlihat jelas di generasi muda.

Penelitian dari Robert Walters menunjukkan bahwa 72% generasi muda lebih memilih mengembangkan karier secara individual, fokus pada keterampilan dan pertumbuhan pribadi, dibanding mengejar posisi manajer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: stylist.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X