Gaji Besar Bukan Segalanya, Pikirkan Dulu Apakah Pekerjaan Itu Sepadan dengan Kesehatan Fisik dan Mental Kamu?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 28 November 2025 | 14:15 WIB
Gaji besar itu idaman dan penting, namun jangan lupa untuk mempertimbangkan apakah pekerjaan tersebut sepadan dengan yang kamu dapatkan? (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Gaji besar itu idaman dan penting, namun jangan lupa untuk mempertimbangkan apakah pekerjaan tersebut sepadan dengan yang kamu dapatkan? (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Beberapa bulan terakhir, banyak profesional senior dari perusahaan besar seperti Microsoft, Google, Meta, Infosys, hingga EY, yang memilih mundur dari posisi bergaji tinggi.

Penyebabnya hampir sama, yaitu stres berlebihan, tekanan kerja tak wajar, dan perubahan peran akibat AI.

Laporan Forbes menyebutkan 40% pemimpin bisnis sedang stres dan mempertimbangkan resign, sedangkan laporan Business Standard menemukan 30% eksekutif mengalami stres dan 50% ingin pindah kerja.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting: Apakah mengejar uang selalu sepadan dengan kebahagiaan dan kesehatan kamu?

Harga mahal dari jam kerja panjang

Gaji besar memang terasa memuaskan di awal. Namun, seiring waktu jam kerja panjang dan stres terus-menerus membuat kamu menjauh dari keluarga dan kehidupan pribadi.

Kamu mulai melewatkan momen penting, merasa bersalah, dan bertanya-tanya mengapa semuanya terasa begitu berat. Tidak sedikit profesional akhirnya menyadari bahwa mereka kehilangan kedamaian hanya demi mengejar target karier.

Kerja berlebihan juga memicu penyakit gaya hidup seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung, diabetes, hingga nyeri punggung dan migrain, yang kini banyak dialami pekerja muda.

Baca Juga: Mulailah Menyisihkan Gaji Untuk Dana Pensiun. Berikut 6 Faktor Pentingnya!

Kinerja vs produktivitas, apa kata ilmu pengetahuan?

Penelitian menunjukkan setiap orang punya batas produktivitas alami. Ketika kamu bekerja terlalu lama, maka fokus bisa menurun, kesalahan meningkat, serta tubuh dan mental makin lelah.

Disebutkan, standar paling sehat untuk bekerja adalah 40 jam per minggu dengan istirahat cukup. Tidak heran beberapa negara seperti Swedia dan Belanda mencoba minggu kerja 4 hari demi keseimbangan hidup.

Apalagi, jam kerja yang panjang tidak berarti hasilnya lebih baik.Produktivitas tertinggi biasanya muncul di pagi hingga sebelum makan siang. Setelah itu, energi menurun secara alami.

Di sinilah istirahat singkat, seperti minum teh atau kopi sore, sangat berperan karena dapat membantu memulihkan fokus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: rediff

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X