Ketika Ada yang Sakit Namun tetap Hadir di Kantor atau Online, Waspada Karena Presenteeism Ini Berdampak Buruk!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Kamis, 8 Januari 2026 | 17:55 WIB
Ketika ada rekan kerja yang sakit namun tetap masuk kantor, jangan sepelekan karena bisa timbulkan ilusi produktivitas. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika ada rekan kerja yang sakit namun tetap masuk kantor, jangan sepelekan karena bisa timbulkan ilusi produktivitas. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Jika kamu pernah melakukan ini: tetap masuk kerja walaupun sedang sakit dengan alasan supaya tetap dianggap komit dengan perusahaan, maka fix kamu mungkin sudah mengalami presenteeism.

Presenteeism ini adalah kondisi ketika karyawan tetap “hadir bekerja” secara fisik di kantor atau secara online, akan tetapi tidak berfungsi optimal karena masalah fisik, mental, atau emosional.

Dengan kata lain, orangnya hadir, tetapi kapasitas kerjanya tidak benar-benar hadir. Dalam presenteeism, kehadiran tidak selalu berarti rajin dan memberikan kontribusi yang jelas.

Secara etimologis, presenteeism berasal dari kata present (hadir), dan dibentuk sebagai lawan konseptual dari absenteeism (ketidakhadiran).

Pada awalnya (fase 1950-1980), presenteeism ini tidak langsung bermakna psikologis, melainkan administratif dan perilaku kerja.

Lalu pada tahun 1990-an, Cari Cooper seorang profesor psikologi organisasi (University of Manchester), mulai mengaitkan presenteeism dengan stres kerja, budaya kerja toksik (toxic), dan kepemimpinan.

Baca Juga: Pekerja Freelance Waspadai Blurred Boundary yang Bisa Sebabkan Tubuh Berhenti Kerja Namun Pikiran Tetap Kerja

Lalu pada fase tahun 2000-an, definisi istilah ini bergeser menjadi “Kehadiran karyawan di tempat kerja saat kondisi fisik atau mentalnya menurunkan kapasitas produktif secara signifikan.”

Dan ketika fase digital, yaitu era WFH (tahun 2010-an hingga sekarang), istilah ini tak lagi sekadar soal datang ke kantor saat sakit, namun online terus, responsif, namun mengalami kelelahan mental dan kognitif.

Presenteeism kini sangat terkait dengan:

  • Blurred boundary;
  • Gagal psychological detachment (“nggak mikirin kerjaan”);
  • Budaya “always on”.

Saat ini, contoh presenteeism dalam praktik yang bisa kita jumpai sehari-hari, misalnya:

  • Datang kerja saat sakit: Demam, flu berat, nyeri hebat, tetapi tetap masuk karena takut dianggap tidak komitmen.
  • Tetap bekerja saat mental sudah lelah: Burnout, cemas, kurang tidur, tetapi tetap online dan mengikuti rapat.
  • WFH tetapi tidak benar-benar fokus: Laptop menyala, kamera aktif, tetapi pikiran kosong dan daya pikir menurun.
  • Banyak jam kerja, output rendah: Lama duduk di depan layar, tetapi kesalahan meningkat dan keputusan melambat.

Baca Juga: 8 Indikasi yang Menunjukkan Kamu Sulit Melepaskan Diri dari Pekerjaan Karena Blurred Boundary

Presenteeism ini mempunya sejumlah penyebab umum, yaitu:

  1. Budaya kerja tidak sehat
  • Hadir dianggap lebih penting daripada hasil.
  • “Tidak enak” izin atau cuti.
  1. Fear-based management
  • Takut dinilai lemah, tidak loyal, atau kalah saing.
  1. Blurred boundary dan gagal detachment
  • Tidak pernah benar-benar istirahat, sehingga bekerja dalam kondisi lelah kronis.
  1. Leader sebagai role model buruk
  • Atasan selalu online, membuat bawahan merasa wajib meniru.

Sudah pasti, presenteeism ini berdampak negatif terhadap organisasi, seperti:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X