3 Cara Meningkatkan Kolaborasi di Tempat Kerja agar Tak Ada Karyawan yang Beban Kerjanya Lebih Besar

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 10 Juli 2025 | 20:12 WIB
Ilustrasi: Mengapa banyak pekerja yang merasa kolaborasi di tempat kerja tidak berjalan dengan lancar? (Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi: Mengapa banyak pekerja yang merasa kolaborasi di tempat kerja tidak berjalan dengan lancar? (Freepik/Drazen Zigic)

PejuangKantoran.comKolaborasi di tempat kerja sangat penting untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan bersama.

Namun, banyak pekerja yang merasa kolaborasi tidak berjalan dengan lancar. Penyebabnya bisa karena komunikasi yang tidak jelas, beban kerja yang tidak merata, atau terlalu banyak meeting yang membuang waktu.

Menurut Dr. Rebecca Hinds dari Asana, ada tiga cara yang bisa membantu memperbaiki kolaborasi di tempat kerja agar lebih efektif dan adil.

Baca Juga: Karena Tidak Terukur, Kolaborasi di Tempat Kerja Jadi Lebih Sulit Dilakukan. Apa Solusinya?

1. Gunakan “pelacak kolaborasi” agar lebih terlihat

Salah satu tantangan dalam kolaborasi adalah pemimpin dan tim tidak benar-benar tahu seberapa banyak setiap orang berkolaborasi dan dilakukan dengan siapa.

Untuk mengatasinya, Asana pernah melakukan eksperimen dengan membuat “dasbor intelijen kolaboratif” bagi para karyawan. Dasbor ini menampilkan data tentang seberapa sering seseorang terlibat dalam kolaborasi.

Hasilnya, karyawan jadi bisa melihat siapa saja yang terlalu banyak berkolaborasi dan siapa saja yang hanya sedikit terlibat.

Dengan alat seperti ini, perusahaan bisa melihat jika ada ketimpangan. Misalnya, ada karyawan yang punya beban kerja terlalu banyak, sedangkan yang lain jarang terlibat.

Ini juga bisa membantu menemukan bagian tim yang bekerja secara terisolasi sehingga kerja tim bisa menjadi lebih adil dan efisien.

Baca Juga: BRI Kembali Jadi Bank Terbaik di Indonesia Versi The Banker, Tembus Peringkat 114 Dunia

2. Kenali bentuk-bentuk kolaborasi yang berbeda

Kolaborasi di tempat kerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas bersama. Ini juga soal siapa yang diajak berdiskusi, dimintai saran, atau sekadar ngobrol untuk membangun hubungan baik.

Kadang, interaksi antarrekan kerja terasa produktif bagi satu pihak, tetapi justru membingungkan atau tidak berguna bagi pihak lain.

Contohnya, seorang manajer mungkin merasa obrolan dengan staf pemasaran sangat bermanfaat, tetapi staf tersebut merasa semua itu hanya menambah kebisingan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X