PejuangKantoran.com - Wawancara kerja sering kali menjadi momen yang menegangkan. Kita berusaha menjawab dengan tepat, dan berharap mendapat penawaran yang sesuai harapan.
Namun, sebuah kisah viral baru-baru ini menunjukkan bahwa bahkan reaksi spontan pun bisa memengaruhi hasil akhir, meski tidak selalu dengan cara yang aman.
Seorang kreator konten bernama Ceraliza membagikan pengalamannya saat wawancara kerja. Ketika mendengar angka gaji yang ditawarkan, refleks ia mengeluarkan ekspresi kaget.
Baca Juga: Pegawai PPPK Bisa Mengajukan Kenaikan Gaji Berkala, Ini Syarat, Berkas, dan Prosedurnya!
Buat Ceraliza, reaksi itu murni karena senang dan tidak menyangka nominalnya cukup tinggi. Namun, pewawancara justru menafsirkan ekspresi tersebut sebagai tanda bahwa gaji itu masih di bawah ekspektasinya.
Ketika pewawancara bertanya apakah tawaran tersebut lebih rendah dari yang ia harapkan, Ceraliza dengan cepat menjawab “iya”. Kesalahpahaman ini justru berujung positif. Pihak perusahaan menaikkan penawaran gaji, dan cerita ini pun ramai dibicarakan di media sosial.
Banyak orang menyebutnya sebagai langkah negosiasi yang cerdik, meski sebenarnya terjadi tanpa disengaja.
Negosiasi gaji yang berisiko
Meski terdengar menarik, para praktisi rekrutmen mengingatkan bahwa strategi minta gaji lebih tinggi seperti ini sangat berisiko. Will Steward, pendiri perusahaan rekrutmen The SaaS Jobs, menilai cara yang dilakukan Ceraliza tersebut tidak selalu bisa diandalkan.
"Di satu sisi, menunjukkan ekspresi agak kaget bisa jadi kode buat manajer HR bahwa tawaran gajinya di bawah ekspektasi kamu. Harapannya, itu bisa memancing mereka untuk berpikir ulang (dan menaikkan tawaran)," kata Steward, sambil menambahkan bahwa kemungkinan keberhasilannya sangat kecil.
Baca Juga: Berapa Kenaikan Gaji yang Sebaiknya Kita Minta? Begini Hitungan Angka yang Masuk Akal
Menurutnya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah sangat subjektif. Apa yang dianggap sebagai keterkejutan wajar oleh satu orang, bisa dimaknai sebagai ketidakpuasan atau sikap tidak profesional oleh orang lain. Dalam skenario terburuk, perbedaan persepsi itu justru bisa merugikan kandidat.
Pandangan serupa disampaikan Ian Nicholas, Global Managing Director di agensi tenaga kerja Reed. Ia mengatakan, meski pendekatan ini bisa saja berhasil saat wawancara kerja, dalam praktiknya peluang sukses sangat kecil dan hanya terjadi dalam kondisi tertentu.
Misalnya, kandidat harus sudah menjadi pilihan utama, pewawancara punya kewenangan mengatur gaji, dan kondisi pasar tenaga kerja berpihak pada pelamar. Kalau semua itu terpenuhi pun, keberhasilannya lebih karena keberuntungan daripada strategi.
Kalau ekspresi “pura-pura kecewa” kamu tidak diterima dengan baik, kamu bisa dianggap manipulatif atau merasa terlalu berhak. Risiko ini semakin besar karena banyak perusahaan memiliki kisaran gaji yang ketat dan tidak gampang diubah secara spontan.
Artikel Terkait
Hampir Setahun Tak Merilis Ponsel Android Lagi, Asus bakal Tinggalkan Lini Smartphone?
Revalina S. Temat Akui Perannya di 'Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?' Tidak Mudah Dimainkan
Platform Video Vimeo Mem-PHK Karyawan Globalnya usai Diakuisisi Pemilik WeTransfer
Berkas yang Diperlukan sebagai Syarat Mendaftar Beasiswa LPDP 2026 untuk Semua Bidang
Mengapa Davos, Kota Kecil di Pegunungan Alpen Swiss Ini Dipilih sebagai Tuan Rumah WEF 2026?
Ada Penjelasan Ilmiah Mengapa Ada Orang yang Gampang Marah saat Lapar alias 'Hangry'
Sutradara Ho Wi-Ding Sebut Aktor-Aktor Muda di Film Esok Tanpa Ibu 'Selalu Mengerjakan PR-nya'