Strategi Minta Gaji Lebih Tinggi yang Aman tanpa Pura-pura Kecewa dengan Angka yang Ditawarkan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 26 Januari 2026 | 09:17 WIB
Ilustrasi: Pura-pura terkejut dengan gaji yang di luar ekspektasi tidak selalu berhasil. Lebih baik pakai strategi minta gaji lebih tinggi yang lebih aman. (Freepik/Yanalya)
Ilustrasi: Pura-pura terkejut dengan gaji yang di luar ekspektasi tidak selalu berhasil. Lebih baik pakai strategi minta gaji lebih tinggi yang lebih aman. (Freepik/Yanalya)

PejuangKantoran.comWawancara kerja sering kali menjadi momen yang menegangkan. Kita berusaha menjawab dengan tepat, dan berharap mendapat penawaran yang sesuai harapan.

Namun, sebuah kisah viral baru-baru ini menunjukkan bahwa bahkan reaksi spontan pun bisa memengaruhi hasil akhir, meski tidak selalu dengan cara yang aman.

Seorang kreator konten bernama Ceraliza membagikan pengalamannya saat wawancara kerja. Ketika mendengar angka gaji yang ditawarkan, refleks ia mengeluarkan ekspresi kaget.

Baca Juga: Pegawai PPPK Bisa Mengajukan Kenaikan Gaji Berkala, Ini Syarat, Berkas, dan Prosedurnya!

Buat Ceraliza, reaksi itu murni karena senang dan tidak menyangka nominalnya cukup tinggi. Namun, pewawancara justru menafsirkan ekspresi tersebut sebagai tanda bahwa gaji itu masih di bawah ekspektasinya.

Ketika pewawancara bertanya apakah tawaran tersebut lebih rendah dari yang ia harapkan, Ceraliza dengan cepat menjawab “iya”. Kesalahpahaman ini justru berujung positif. Pihak perusahaan menaikkan penawaran gaji, dan cerita ini pun ramai dibicarakan di media sosial.

Banyak orang menyebutnya sebagai langkah negosiasi yang cerdik, meski sebenarnya terjadi tanpa disengaja.

Negosiasi gaji yang berisiko

Meski terdengar menarik, para praktisi rekrutmen mengingatkan bahwa strategi minta gaji lebih tinggi seperti ini sangat berisiko. Will Steward, pendiri perusahaan rekrutmen The SaaS Jobs, menilai cara yang dilakukan Ceraliza tersebut tidak selalu bisa diandalkan.

"Di satu sisi, menunjukkan ekspresi agak kaget bisa jadi kode buat manajer HR bahwa tawaran gajinya di bawah ekspektasi kamu. Harapannya, itu bisa memancing mereka untuk berpikir ulang (dan menaikkan tawaran)," kata Steward, sambil menambahkan bahwa kemungkinan keberhasilannya sangat kecil.

Baca Juga: Berapa Kenaikan Gaji yang Sebaiknya Kita Minta? Begini Hitungan Angka yang Masuk Akal

Menurutnya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah sangat subjektif. Apa yang dianggap sebagai keterkejutan wajar oleh satu orang, bisa dimaknai sebagai ketidakpuasan atau sikap tidak profesional oleh orang lain. Dalam skenario terburuk, perbedaan persepsi itu justru bisa merugikan kandidat.

Pandangan serupa disampaikan Ian Nicholas, Global Managing Director di agensi tenaga kerja Reed. Ia mengatakan, meski pendekatan ini bisa saja berhasil saat wawancara kerja, dalam praktiknya peluang sukses sangat kecil dan hanya terjadi dalam kondisi tertentu.

Misalnya, kandidat harus sudah menjadi pilihan utama, pewawancara punya kewenangan mengatur gaji, dan kondisi pasar tenaga kerja berpihak pada pelamar. Kalau semua itu terpenuhi pun, keberhasilannya lebih karena keberuntungan daripada strategi.

Kalau ekspresi “pura-pura kecewa” kamu tidak diterima dengan baik, kamu bisa dianggap manipulatif atau merasa terlalu berhak. Risiko ini semakin besar karena banyak perusahaan memiliki kisaran gaji yang ketat dan tidak gampang diubah secara spontan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Metro.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X