Menangis di Kantor Sering Dianggap Cemen dan Tidak Profesional, atau Itu Bentuk yang Wajar?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 30 Maret 2026 | 16:33 WIB
Ilustrasi: Orang yang kepergok menangis di kantor sering dianggap cemen. Benarkah begitu? (Pexels/Kaboompics.com)
Ilustrasi: Orang yang kepergok menangis di kantor sering dianggap cemen. Benarkah begitu? (Pexels/Kaboompics.com)

PejuangKantoran.com - Kalau kamu melihat ada rekan kerja yang menangis di kantor sehabis menerima feedback dari atasan, atau karena tidak mampu menyelesaikan tugasnya, apa yang kamu pikirkan?

Apakah kamu langsung menganggapnya lemah, atau cemen? Atau merasa iba dan bisa memahami perasaannya karena beban kerja yang memang berat?

Banyak orang menganggap menangis di kantor adalah hal yang tabu atau tidak profesional. Padahal, menangis adalah reaksi alami dan spontan tubuh kita saat harus menahan emosi yang tinggi.

Baca Juga: 9 Tanggung Jawab Seorang Editor Video. Pantasnya Dihargai Berapa Rupiah?

Penelitian menunjukkan bahwa kita menangis untuk pulih dari perasaan tertekan atau kewalahan. Selain itu, air mata juga berfungsi sebagai sinyal sosial bahwa kita butuh bantuan atau sedang meredakan perilaku agresif orang lain.

Secara biologis, menangis merangsang sistem saraf parasimpatis yang membantu tubuh kita berelaksasi dan pulih, berkebalikan dengan respons fight or flight (lawan atau.lari) yang menegangkan.

Ternyata, kejadian ini jauh lebih umum dari yang kita kira. Sebuah survei dari aplikasi Headspace mengungkapkan bahwa 48% pekerja kantoran dan 44% pekerja hybrid pernah menangis di kantor karena pekerjaan mereka.

Bahkan bagi mereka yang bekerja sepenuhnya dari rumah (remote), angkanya melonjak hingga 70%. Dengan data sebanyak ini, mungkin sudah saatnya kita mengubah sudut pandang kita.

Menurut Samantha Munro, praktisi kesehatan mental senior, menangis di kantor seharusnya tidak lagi dianggap tidak profesional.

Kita kan sering menganggap wajar orang yang marah, frustrasi, atau kecewa di kantor. Tetapi ketika seseorang menangis, ia justru cenderung mendapatkan hukuman sosial yang berlebihan.

Baca Juga: Kesempatan Terlibat di Festival Budaya Indonesia–Jepang, Connext Japan Djakarta Ennichi 2026 Dibuka untuk Volunteer

Hal ini mungkin karena menangis menuntut perhatian emosional lebih besar dari orang di sekitarnya, sesuatu yang sering dihindari di dunia kerja.

Padahal, kita membawa perasaan kita ke tempat kerja, bukan hanya logika kita. Pandangan bahwa menangis itu lemah atau ketidakmampuan menahan emosi yang hanya ditunjukkan kaum perempuan adalah pemikiran yang sudah usang.

Justru, atasan yang paling efektif adalah yang berani menunjukkan sisi rapuhnya dan mengakui kesalahan mereka. Budaya perusahaan yang sehat seharusnya membuat siapa pun merasa tetap kompeten dan kredibel, meskipun mereka sedang emosional.

Secara psikologis, mengeluarkan air mata juga membantu membuang hormon stres dan racun dari tubuh. Ini memberikan semacam reset emosional yang membantu pikiran kita kembali jernih dalam melihat masalah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Humanpsychology.com.au, Uts.edu.au

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X