Bahkan, data dari Bank Sentral New York menunjukkan angka pengangguran lulusan baru mencapai 5,7%, lebih tinggi dibanding rata-rata pekerja umum yang cuma 4,2%.
Di Amerika sendiri, perekrutan karyawan entry level anjlok sampai 29% dibandingkan masa sebelum pandemi.
Memang sih, AI tetap mengubah cara kerja anak baru. Tools seperti ChatGPT sekarang dipakai untuk otomatisasi pekerjaan yang sifatnya administratif atau pekerjaan kasar, sehingga karyawan baru dituntut untuk memegang tanggung jawab yang lebih tinggi dan lebih cepat.
Baca Juga: Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator
Meski begitu, para peneliti mengingatkan kalau masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan entry level sudah digantikan AI. Kalau masalahnya adalah WFH yang bikin perusahaan malas melatih anak baru, berarti pihak manajemen yang harus putar otak.
Perusahaan perlu merombak total cara mereka membimbing dan mengelola karyawan junior di lingkungan kerja yang sifatnya hybrid atau remote.
Jadi, kalau ada anak magang di tim kita yang kelihatan bingung pas WFH, mending kita sering-sering chat atau telepon duluan untuk membantu mereka. Gimana menurutmu, setuju nggak kalau WFH itu sebenarnya bikin repot buat ngebimbing anak fresh graduate?