"‘Dikutip di luar konteks’ adalah alasan klasik yang paling basi. Jika Anda memangkas 15% tenaga kerja, kalimat 'membangun keterampilan untuk peluang baru' tidak akan terdengar tulus, justru itu menghina kecerdasan orang lain".
Melihat banyaknya reaksi negatif, Winters akhirnya sadar bahwa ucapannya membuat rekan kerjanya merasa tidak nyaman. Ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di LinkedIn.
Baca Juga: Bukan karena AI, tapi WFH yang Lebih Menyebabkan Sulit Mendapat Pekerjaan Entry Level
"Saya telah menerima banyak dukungan atas pesan di postingan sebelumnya, tetapi masih ada pertanyaan tentang pilihan kata saya, yang saya tahu telah menyebabkan kekecewaan bagi beberapa rekan kerja. Untuk itu, saya minta maaf," tulisnya.
Ketakutan nyata akan masa depan pekerjaan
Pernyataan ini mencuat di tengah diskusi hangat mengenai bagaimana AI mulai menggantikan posisi manusia. Perusahaan besar lainnya seperti Amazon, Meta, hingga UPS juga sudah mengaitkan kebijakan efisiensi dan pengurangan tenaga kerja dengan penggunaan AI.
Data dari National Bureau of Economic Research mencatat, tahun lalu saja sekitar 55.000 pekerjaan hilang karena teknologi ini, dan diprediksi akan ada 502.000 pekerjaan lagi yang hilang pada tahun 2026.
Perwakilan Standard Chartered mencoba meluruskan kesalahpahaman tersebut. Mereka menegaskan komitmen perusahaan untuk mengubah tenaga kerjanya menjadi tim yang lebih terampil di masa depan.
Baca Juga: Penjualan Turun Drastis, Jaringan Toko Ritel Galeries Lafayette Menutup Tokonya di Beijing
Menurut mereka, apa yang dilakukan perusahaan adalah langkah yang semestinya diambil oleh pemberi kerja yang bertanggung jawab.
Sepertinya, perdebatan ini bukan cuma soal kata-kata, tapi soal ketakutan nyata akan masa depan pekerjaan. Ke depannya, setiap perusahaan pasti akan menghadapi percakapan sulit ini.
Sebagai karyawan, perampingan karyawan pasti sangat menakutkan. Itulah tugas perusahaan untuk tetap berinovasi tanpa harus mengesampingkan martabat manusia di dalamnya.
Winters sendiri sekarang sedang berusaha menunjukkan bahwa fokus utamanya adalah transisi keterampilan, sayang kata-katanya sudah terlanjut membuat banyak orang tersinggung.
Artikel Terkait
Pilates Tak Lagi Sekadar Soal Postur Tubuh, Studi Baru Ungkap Manfaat untuk Kesehatan Otak
Tak Cuma Dada Ayam, Ini Deretan Makanan dengan Protein Lebih Tinggi
Perubahan Kapasitas Kerja Bisa Mengungkap Risiko Cuti Sakit Sejak Dini di Tempat Kerja
6 Kejanggalan dari Pemalsuan Riset yang Diduga Dilakukan Peneliti Indonesia di Konferensi Internasional
Ditampar Baim Wong saat Syuting 'Suamiku Lukaku', Acha Septriasa Alami Pecah Pembuluh Darah
Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator
3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2