Hah, Punya Terlalu Banyak Uang Tunai Bisa Menggerogoti Kekayaan. Kok Bisa?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 09:10 WIB
Mengelola keuangan rumah dengan metode cash-stuffing punya sejumlah jebakan yang harus kamu waspadai. (Google Gemini)
Mengelola keuangan rumah dengan metode cash-stuffing punya sejumlah jebakan yang harus kamu waspadai. (Google Gemini)

PejuangKantoran.com - Kamu pasti sering mendengar ungkapan “uang tunai adalah raja”. Namun, kenyataannya kadang uang tunai yang terlalu banyak dan mengendap di rekening bank justru bisa jadi “monster” yang menggerogoti kekayaan.

Bayangkan, kamu punya banyak uang di rekening tabungan. Terasa aman, kan? Namun, ada dua hal yang bisa membuat “aman” itu berubah menjadi sayang jika tidak diantisipasi.

Pertama, inflasi yang “makan” daya beli uang. Di Indonesia, inflasi tahunan tercatat sekitar 2,65% di September 2025.  Sementara itu, suku bunga tabungan di banyak bank jauh lebih rendah.

Artinya, jika uang kamu hanya “diam” di rekening tabungan dengan bunga rendah, maka daya belinya bisa menurun karena harga barang dan jasa naik lebih cepat daripada bunga yang diterima.

Kedua, biaya kesempatan atau opportunity cost, yaitu potensi pertumbuhan atau pendapatan yang dilewatkan ketika uang cuma disimpan saja, tidak digunakan untuk sesuatu yang produktif.

Baca Juga: 'Agak Laen' Raih 9 Juta Penonton, Ernest Prakasa Terbebani Ekspektasi Penonton saat Garap Film Keduanya

Misalnya, bila uang itu bisa dialihkan ke investasi, aset, atau instrumen yang lebih produktif, maka peluang pertumbuhan akan lebih besar dibanding hanya disimpan di rekening tabungan yang hasilnya sangat kecil.

Lalu, apa yang harus dilakukan dengan uang tunai kamu?

Bukan berarti Anda harus menguras semua uang dari rekening dan investasi penuh tiap rupiah — tidak juga. Intinya: seimbangkan antara simpanan yang aman dan pemanfaatan uang agar tidak “menganggur”.

  1. Simpan cukup untuk dana darurat

Uang tunai tetap penting sebagai bantalan ketika hal tak terduga terjadi. Misalnya, kehilangan pekerjaan, tagihan medis mendadak, perbaikan rumah atau kendaraan.

Sebagai pedoman, simpan dana darurat sebesar 3 – 6 bulan biaya hidup pokok.

  1. Sisanya bisa dipertimbangkan untuk dimanfaatkan

Setelah dana darurat terpenuhi, maka sisa uang tunai bisa dipikirkan untuk dialihkan ke instrumen atau aset yang memberikan hasil lebih tinggi dari bunga tabungan biasa.

Contohnyam deposito berjangka, obligasi jangka pendek atau menengah, reksa dana indeks, atau investasi saham.

Baca Juga: 'Agak Laen' Raih 9 Juta Penonton, Ernest Prakasa Terbebani Ekspektasi Penonton saat Garap Film Keduanya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Yahoo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X