Serat yang kurang pada junk food membuat perasaan kenyang tidak bertahan lama. Hal itu menyebabkan penurunan energi dan peningkatan rasa lapar.
Baca Juga: Cara Singapura Menjawab Tantangan Pekerja Dewasa atau Adult Worker
Faktor Pendukung Efek Penyakit
Dalam konteks risiko kesehatan, faktor-faktor lain seperti gaya hidup dan faktor genetik juga berperan. Kebiasaan mengonsumsi junk food banyak dipengaruhi oleh ketersediaan, paparan iklan dan kesadaran individu.
Upaya perubahan perilaku menuju pola makan sehat memerlukan kolaborasi antara individu, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
“Untuk mengurangi dampak buruk konsumsi junk food, perlu adanya pembatasan penjualan dan iklan junk food, promosi makanan sehat sesuai gizi seimbang, dan penelitian lebih lanjut terkait perubahan perilaku."
"Pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu bekerja bersama dalam merumuskan solusi untuk mengurangi prevalensi konsumsi junk food, khususnya di kalangan anak muda dan mahasiswa,” tutupnya.